Benteng Api Technic Siap Rebut Pasar Refraktori dari Genggaman Impor

- Kamis, 04 Desember 2025 | 10:55 WIB
Benteng Api Technic Siap Rebut Pasar Refraktori dari Genggaman Impor

Geliat industri berat dalam negeri ternyata membawa angin segar bagi pasar material tahan api. Ya, industri refraktori sedang menanjak. Di tengah gencarnya proyek smelter, petrokimia, dan energi, permintaan akan produk tahan panas ini diprediksi bakal melonjak drastis dalam beberapa tahun mendatang.

Nah, di antara pemain lokal yang sibuk menyiapkan diri, nama PT Benteng Api Technic Tbk (BATR) kerap disebut. Emiten yang baru melantai di BEI pertengahan 2024 ini punya ambisi besar di pasar yang selama ini masih didominasi barang impor.

Menurut Abdul Azis, Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, peluang BATR justru terletak pada kondisi pasar yang masih minim pemain lokal.

"Pasar refraktori di Indonesia selama ini dikuasai oleh produk impor. Jika pemain lokal seperti BATR mampu menjaga kualitas dan memperluas kapasitas, mereka punya peluang besar mengisi kekosongan suplai lokal," ujar Azis dalam risetnya, Kamis (4/12/2025).

Dia bilang, produk dari China dan India memang masih mendominasi. Tapi, gelombang proyek hilirisasi seperti smelter nikel dan refinery logam membuka permintaan jangka panjang yang lebar. Proyek-proyek strategis nasional itu, dalam pandangannya, akan menciptakan kebutuhan yang konsisten.

Kuncinya? Keandalan produk dan layanan teknis yang mendukung industri berat. Jika itu bisa dijaga, BATR berpotensi jadi bagian penting dari rantai pasok dalam negeri.

"Industri refraktori memang panas, tapi peluang keuntungannya juga membara. Jika mampu mengeksekusi ekspansi dengan baik, BATR punya peluang untuk naik kelas sebagai raja refraktori lokal," kata Azis menambahkan.

Memang, angka impor produk refraktori Indonesia mencapai lebih dari USD 200 juta per tahun. Fakta itu sekaligus jadi gambaran: kebutuhan dalam negeri sangat besar, namun belum terlayani maksimal oleh produsen domestik. BATR melihat ini sebagai peluang strategis.

Di sisi lain, perusahaan ini baru saja menyelesaikan program buyback saham senilai Rp 4 miliar. Aksi korporasi yang berlangsung dari 16 Mei hingga 16 Juli 2025 ini, kata mereka, takkan ganggu likuiditas. Tujuannya jelas, menjaga stabilitas harga saham dan kepentingan para pemegang saham.

Soal operasional, BATR memproduksi beragam material tahan panas mulai dari fire brick, castable refractory, sampai produk insulasi khusus. Kapasitasnya sekitar 1.300 ton per bulan. Untuk mendongkrak itu, mereka pakai dana IPO buat bangun fasilitas baru, beli mesin produksi, dan modernisasi lab.

Manajemen BATR sendiri tak menampik bahwa ketergantungan pada impor adalah tantangan sekaligus peluang. Permintaan dari sektor smelter, peleburan logam, hingga pembangkit listrik dipastikan akan terus naik. Makanya, ekspansi kapasitas jadi langkah krusial.

Optimisme itu tercermin dalam target mereka. BATR mengejar pendapatan Rp 150 miliar di tahun 2025, naik dari sebelumnya sekitar Rp 123 miliar. Laba bersih pun ditargetkan melesat ke Rp 14,8 miliar.

Jadi, ceruk pasarnya besar. Momentumnya tepat. Tapi jalan ke depan tentu tak mulus. Konsistensi dalam produksi, strategi pemasaran, dan kepatuhan pada standar teknis akan jadi penentu utama. Apakah BATR benar-benar bisa jadi pemain utama? Waktu yang akan menjawabnya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar