Setelah mayoritas pemegang obligasi memberi lampu hijau, PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) kini bisa bernapas sedikit lebih lega. Agenda pemulihan kinerja perusahaan bakal dipacu. Persetujuan itu sendiri datang dari Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) yang digelar Selasa lalu.
Fandy Dewanto, sang Kepala Divisi Corporate Secretary WSBP, menekankan betapa krusialnya forum tersebut. Bagi dia, RUPO bukan sekadar formalitas.
"RUPO merupakan forum penting untuk menjaga komunikasi terbuka antara WSBP dan para pemegang obligasi,"
ujar Fandy di Jakarta, Rabu (3/12/2025).
Persetujuan yang didapat, menurutnya, membuka ruang strategis. Ruang itulah yang akan dipakai untuk menjalankan program pemulihan, terutama pasca-restrukturisasi yang sudah dijalani.
Lalu, apa sebenarnya yang disetujui? Intinya, para pemegang obligasi sepakat untuk memberikan kelonggaran. Mereka menyetujui pengesampingan pemenuhan beberapa kewajiban rasio keuangan untuk laporan keuangan WSBP di akhir tahun 2025 dan 2026 nanti. Beberapa rasio yang dimaksud antara lain Current Ratio, Debt to Equity Ratio (DER), dan Debt Service Coverage (DSC). Dengan kata lain, perusahaan mendapat keleluasaan untuk tidak memenuhi target angka-angka itu untuk sementara.
Di sisi lain, WSBP tak cuma berharap pada relaksasi ini. Fandy memaparkan, perusahaan tetap fokus pada hal-hal fundamental. Memperkuat pangsa pasar, misalnya, dengan memburu proyek-proyek berkualitas. Mereka juga terus mengembangkan produk beton precast dan readymix yang inovatif. Sebagai anak usaha Waskita Karya, optimasi layanan jasa konstruksi di berbagai wilayah operasional juga terus digenjot.
Fandy menjelaskan, pengajuan waiver tadi sebenarnya adalah langkah korporat yang disengaja. Tujuannya jelas: menyediakan ruang gerak yang optimal. Dengan begitu, program pemulihan kinerja selama dua tahun ke depan (2025–2026) bisa dijalankan tanpa beban berlebihan.
Perseroan menilai fleksibilitas semacam ini amat penting. Strategi penguatan struktur bisnis dan seleksi proyek yang ketat harus bisa berjalan. Semuanya demi satu tujuan: mencapai normalisasi kinerja keuangan yang berkelanjutan dan sehat.
"Komitmen yang dibuat bersama Pemegang Obligasi dalam RUPO ini ditujukan untuk memberikan ruang keberlanjutan usaha agar program pemulihan kinerja Perseroan dapat berjalan secara optimal,"
tutup Fandy.
(NIA DEVIYANA)
Artikel Terkait
Hutama Karya Raup Laba Rp464 Miliar di Kuartal I-2026, Tembus 172 Persen Target
PT Sinar Terang Mandiri Tbk Bagikan Dividen Rp60,23 Miliar, Setara Rp14,75 per Saham
Indonet Tunjuk Donauly Elena Situmorang sebagai Direktur Utama, Gantikan Andrew Rigoli
IHSG Anjlok 6,6% dalam Sepekan, Saham Logistik Baru IPO Justru Melonjak 94%