Pasar komoditas Selasa kemarin tampak gamang. Di satu sisi, ada secercah harapan perdamaian dari konflik Rusia-Ukraina yang bikin harga minyak mentah melemah. Tapi di sisi lain, kekhawatiran bakal ada kelebihan pasokan bikin pergerakan harga jadi tak stabil.
Minyak Brent, patokan global, akhirnya ditutup turun 1,14 persen ke level USD 62,45 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dari AS juga ikut merosot 1,15 persen, menjadi USD 58,64 per barel. Data dari Reuters mengonfirmasi penurunan ini.
Nah, kalau batu bara ceritanya lain. Komoditas yang satu ini justru menguat tipis di akhir sesi. Harganya naik sekitar 0,41 persen, mengangkangi level USD 108,80 per ton.
Lain lagi dengan CPO atau minyak kelapa sawit. Performanya cukup impresif, melesat hingga 1,64 persen. Kenaikan itu membawa harga ke posisi MYR 4.160 per ton.
Namun begitu, logam-logam industri justru banyak yang tertekan. Nikel, misalnya, harganya terpantau melemah hampir satu persen tepatnya 0,91 persen. Akhir perdagangan, logam ini berada di angka USD 14.740 per ton.
Sementara itu, nasib serupa dialami timah. Berdasarkan catatan London Metal Exchange (LME), harganya turun tipis 0,24 persen. Penurunan itu membuatnya bertengger di level USD 39.040 per ton. Jadi, pasar komoditas kemarin benar-benar menunjukkan dua wajah yang berbeda.
Artikel Terkait
ACES Bagikan Dividen Rp32,01 per Saham, Yield Tembus 9,2 Persen
OMED Bagikan Dividen Rp110,4 Miliar, Setiap Pemegang Saham Terima Rp4,08 Per Lembar
PT Fortune Indonesia Terbitkan 219,5 Miliar Saham Baru, Rights Issue Rp27,7 Triliun untuk Akuisisi Tambang Batu Bara
Rupiah Menguat 114 Poin ke Rp17.944 Usai BI Naikkan Suku Bunga, Konflik Iran-AS Kembali Memanas