Di sisi lain, ENRG tampaknya cukup optimis melihat prospek jangka panjang. Mereka yakin bisnis minyak dan gas bumi masih akan jadi tulang punggung energi nasional. Apalagi, permintaan diperkirakan bakal melonjak minyak naik 139% dan gas bisa melesat 298% hingga tahun 2050.
Herwin menambahkan, penerbitan obligasi ini selaras dengan visi perusahaan membangun masa depan yang berkelanjutan.
Tak cuma mengandalkan proyeksi pasar, ENRG juga berencana tetap fokus pada kegiatan intinya: pertambangan migas. Mereka berharap produksi bisa meningkat, didorong oleh keberhasilan akuisisi beberapa aset baru belakangan ini. Jadi, langkah penerbitan surat utang ini seperti dua sisi mata uang: menyelesaikan kewajiban lama sambil menyiapkan tenaga untuk ekspansi ke depan.
Artikel Terkait
Aturan BEI Ungkap Kepemilikan Saham Andry Hakim di RMKO dan SOTS
Indonesia Alihkan Impor Minyak dari Timur Tengah ke AS Antisipasi Penutupan Selat Hormuz
Unicharm Indonesia Catat Kerugian Rp1 Triliun di 2025, Terburuk Sepanjang Sejarah
Pemerintah Alihkan Impor Minyak dari Timur Tengah ke AS Imbas Penutupan Selat Hormuz