Surplus Dagang Bertahan 66 Bulan, Meski Ekspor Oktober Merosot

- Senin, 01 Desember 2025 | 11:42 WIB
Surplus Dagang Bertahan 66 Bulan, Meski Ekspor Oktober Merosot

Neraca perdagangan Indonesia lagi-lagi catat surplus di bulan Oktober 2025. Angkanya, menurut rilis Badan Pusat Statistik, mencapai 2,39 miliar dolar AS. Kabar baik ini diumumkan langsung oleh Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, di kantornya pada Senin (1/12).

“Pada Oktober 2025 neraca perdagangan masih mencatatkan surplus sebesar USD 2,39 miliar,” ujar Pudji.

Meski positif, ada yang perlu dicermati. Surplus kali ini ternyata lebih kecil jika dibandingkan dengan capaian bulan sebelumnya, atau bahkan dengan Oktober tahun lalu. Namun begitu, ini bukanlah prestasi yang bisa diremehkan. Sejak Mei 2020 atau sudah 66 bulan beruntun Indonesia konsisten menjaga neraca perdagangannya di zona hijau. Rekor yang cukup panjang.

Ekspor: Ada yang Turun, Tapi Secara Kumulatif Naik

Lalu, bagaimana rinciannya? Ternyata, nilai ekspor kita pada Oktober 2025 justru mengalami penurunan. Angkanya menyentuh 24,24 miliar dolar AS, turun 2,31% dibandingkan periode yang sama tahun 2024.

Penurunan paling tajam terjadi di sektor migas. Ekspor migas anjlok 33,60%, hanya menyumbang 0,89 miliar dolar AS. Sementara ekspor nonmigas relatif lebih stabil, hanya turun tipis 0,51% menjadi 23,24 miliar dolar AS.

Tapi jangan buru-buru pesimis. Jika dilihat dari jarak yang lebih jauh, performanya justru menggembirakan. Dari Januari hingga Oktober 2025, total nilai ekspor kita malah naik 6,69% secara tahunan. Angkanya mencapai 234,04 miliar dolar AS.

“Total nilai ekspor sepanjang Januari-Oktober mengalami peningkatan sebesar 6,96 persen dibanding periode yang sama tahun lalu,” jelas Pudji Ismartini.

“Andil utama peningkatan nilai ekspor disumbang oleh industri pengolahan sebesar 11,68 persen,” tambahnya.

Impor: Sektor Migas Jatuh, Nonmigas Naik

Di sisi lain, nilai impor secara keseluruhan juga ikut melandai. Pada Oktober 2025, impor Indonesia tercatat 21,84 miliar dolar AS, turun 1,15% dari tahun sebelumnya.

Rinciannya menarik. Impor migas justru merosot cukup dalam, turun 23,32% menjadi 2,81 miliar dolar AS. Sebaliknya, impor untuk barang-barang nonmigas justru naik 3,26%, mencapai 19,03 miliar dolar AS. Kenaikan ini mungkin mengindikasikan permintaan bahan baku dan barang modal yang masih kuat untuk mendukung industri dalam negeri.

Secara kumulatif, dari awal tahun hingga Oktober, nilai impor kita tetap mengalami kenaikan sebesar 2,19%. Totalnya mencapai 198,16 miliar dolar AS. Artinya, meski ada perlambatan di bulan tertentu, aktivitas impor secara umum masih berdenyut.

Jadi, begitulah gambaran perdagangan kita akhir-akhir ini. Surplus tetap terjaga, meski dengan tekanan di beberapa sektor. Tantangannya ke depan adalah menjaga momentum positif ini agar tak sekadar jadi catatan statistik belaka.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar