UGM Gaet Industri Tambang Wujudkan Kedaulatan Teknologi

- Senin, 01 Desember 2025 | 11:12 WIB
UGM Gaet Industri Tambang Wujudkan Kedaulatan Teknologi
Transformasi Industri Tambang

Volatilitas pasar global yang tak menentu justru jadi momentum penting bagi industri tambang nasional untuk berubah. Masa depannya tak lagi cuma bergantung pada melimpahnya cadangan sumber daya alam. Kini, semuanya berpusat pada kecerdasan digital dan sejauh mana kemandirian teknologi bisa diwujudkan.

Nah, isu strategis inilah yang mengemuka dalam forum "Mining Full Technology" belum lama ini. Digelar oleh Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan (FMIPA) UGM, bekerja sama dengan Keluarga Alumni FMIPA UGM, PP Kagama, serta Djakarta Mining Club, acara ini berlangsung di Auditorium Indonesia Power, Jakarta, Jumat (28/11).

Dari sisi pemerintah, Surya Herjuna, Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Batubara yang mewakili Menteri ESDM, menegaskan komitmen mereka. "Kami sangat mendukung digitalisasi sektor tambang," ujarnya.

Ia secara khusus memberi apresiasi pada Minerba One, sebuah super aplikasi terintegrasi hasil kolaborasi dengan FMIPA UGM. Menurutnya, ini adalah bukti nyata bagaimana dunia akademik bisa berkontribusi menciptakan tata kelola minerba yang jauh lebih transparan dan akuntabel.

Dukungan juga datang dari internal kampus. Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., selaku Wakil Rektor UGM Bidang Pendidikan dan Pengajaran, menegaskan dukungan penuh universitas terhadap kolaborasi semacam ini. Ia melihatnya sebagai langkah konkret untuk menghilirisasi riset agar benar-benar bermanfaat bagi industri.

Lalu, bagaimana peran kampus dalam skema ini? Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si., Dekan FMIPA UGM, punya ajakan menarik bagi korporasi tambang.

"Perusahaan tak perlu lagi pusing menanggung beban investasi fasilitas riset yang mahal, apalagi memulainya dari nol. Jadikan saja FMIPA UGM sebagai mitra R&D strategis Anda," tegas Prof. Kuwat.

Ia memaparkan bahwa fakultasnya sudah siap menyediakan solusi teknologi dari hulu ke hilir. Pengalaman mereka cukup beragam, mulai dari sistem AI untuk deteksi kondisi geologis hingga solusi yang bertujuan mengoptimalkan operasional tambang.

Di sisi lain, forum ini juga menyoroti sebuah riset yang cukup strategis: potensi hilirisasi isotopik berbasis nikel dan thorium dari limbah timah. Inovasi semacam ini berpeluang besar menjadi kunci pengembangan baterai berukuran kecil, tapi dengan daya tahan operasional yang sangat lama.

Perspektif dari ekosistem industri sendiri dihadirkan oleh sejumlah pembicara ahli. Mereka datang dari Vale, MIND ID, PLN Enjinering, Gowell Energy, dan Red Hat. Intinya, para pemangku kepentingan ini membedah kesiapan infrastruktur energi dan digital yang ada. Mereka sepakat, integrasi yang solid antara korporasi tambang dan penyedia teknologi mutlak diperlukan, termasuk di dalamnya riset mendalam tentang AI dan AI generatif.

Lantas, bagaimana strategi adopsi teknologinya? Daniel Oscar Baskoro, Ketua Umum KAMIPAGAMA, punya penekanan khusus. Menurutnya, inisiatif apapun harus berorientasi pada profitabilitas.

"Kemitraan R&D dengan kampus memastikan bahwa pemanfaatan AI bisa dikonversi menjadi keuntungan finansial yang nyata bagi perusahaan tambang. Caranya? Melalui efisiensi biaya dan operasional yang lebih presisi. Jadi, dampak teknologinya harus langsung terasa di bottom line perusahaan," tegas Oscar.

Menutup diskusi, Mangantar S. Marpaung, Ketua Djakarta Mining Club, menyoroti kebutuhan di lapangan. "Pemanfaatan teknologi cerdas dan AI sangat kami butuhkan untuk menjawab tantangan geografis di medan tropis yang sulit. Di saat yang sama, teknologi juga harus bisa membereskan kompleksitas administrasi operasional yang selama ini membebani industri," pungkasnya.

Pada akhirnya, forum ini menyimpulkan satu hal: kedaulatan pertambangan Indonesia ke depan akan ditentukan oleh aksi nyata dan kolaborasi yang solid. Dengan itu, Indonesia berpeluang menjadi pemain kunci dalam peta industri pertambangan cerdas global.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar