Sudah 74 tahun berlalu sejak Kopassus berdiri. Itu bukan sekadar angka. Lebih dari itu, perjalanan panjang dari 1952 hingga 2026 ini menggambarkan betapa satuan elite ini terus berubah, menyesuaikan diri dengan ancaman yang kian ruwet. Tema peringatannya tahun ini, "Garda Senyap Untuk Negeri", terasa pas. Reputasi mereka dibangun dari operasi konvensional hingga misi kontra-teror, menunjukkan fleksibilitas yang luar biasa. Tapi, dunia abad ke-21 ini punya tantangan baru yang sama sekali berbeda. Ancaman sekarang tidak lagi datang dari satu arah yang jelas. Di sinilah konsep seperti hybrid warfare dan operasi multidomain muncul, menguji kesiapan Kopassus di masa depan.
Hybrid warfare itu rumit. Intinya, perang model ini campur aduk. Tidak cuma mengandalkan kekuatan militer biasa, tapi juga senjata non-militer seperti disinformasi, serangan siber, atau tekanan ekonomi. Batas antara keadaan perang dan damai pun jadi samar. Negara atau bahkan kelompok non-negara bisa melumpuhkan lawannya tanpa perlu menyatakan perang secara resmi. Fenomena ini sudah terjadi di berbagai belahan dunia, di mana aksi militer hanyalah satu bagian kecil dari sebuah permainan besar.
Nah, bagi Kopassus yang selama ini andal dalam operasi fisik infiltrasi, penyelamatan, sabotase hadirnya ancaman hibrida ini jelas menuntut penyesuaian. Kehebatan tak lagi cuma diukur dari ketangguhan bertempur di lapangan. Sekarang, mereka juga harus paham betul dengan domain non-kinetik. Artinya, kemampuan analisis intelijen berbasis data, melek teknologi informasi, sampai terlibat dalam operasi psikologis yang terpadu, menjadi krusial.
Belum lagi dengan multidomain operation atau MDO. Konsep ini memperluas medan tempur secara drastis. Dulu cuma darat, laut, udara. Sekarang, ada tambahan domain siber dan ruang angkasa. MDO menekankan integrasi semua domain itu secara bersamaan untuk mendapatkan efek yang maksimal. Dalam praktiknya, sebuah operasi kecil di darat bisa jadi bagian dari sebuah jaringan sistem besar yang saling terhubung secara real-time.
Implikasinya untuk Kopassus sangat besar. Sebagai ujung tombak, mereka dituntut untuk tidak cuma jago di darat. Misalnya, sebuah misi infiltrasi sekarang bisa didukung oleh intelijen siber untuk memetakan target dengan presisi tinggi. Atau, kegiatan pengintaian bisa dibantu oleh drone canggih atau satelit. Semua ini butuh integrasi teknologi yang mungkin belum sepenuhnya menjadi fokus dalam doktrin mereka selama ini.
Namun begitu, jalan menuju transformasi itu tidak mulus. Kendala pertama ya sumber daya manusianya sendiri. Kopassus perlu mencetak prajurit yang bukan hanya fisiknya bagus, tapi juga punya literasi digital dan kemampuan analitis yang mumpuni. Ini jelas butuh perubahan besar dalam sistem pendidikan dan pelatihan. Kurikulum harus dirombak, mengakomodasi hal-hal seperti kecerdasan buatan, big data, dan keamanan siber.
Kedua, soal interoperabilitas. MDO mensyaratkan koordinasi yang super ketat antar matra TNI, plus dengan lembaga sipil terkait. Di Indonesia yang birokrasinya kompleks, hambatan struktural dan kultural seringkali muncul. Kopassus, yang berada di bawah TNI AD, harus bisa bersinergi lebih erat dengan TNI AL, AU, serta institusi seperti BSSN dan BIN. Kalau koordinasi ini amburadul, mustahil MDO bisa berjalan optimal.
Faktor ketiga adalah modernisasi alat dan teknologi. Hybrid warfare dan MDO sangat bergantung pada superioritas informasi. Investasi untuk sistem komunikasi canggih, perangkat penginderaan, dan platform berbasis AI jadi hal yang mendesak. Tapi, kita tahu sendiri, anggaran pertahanan kita seringkali terbatas. Diperlukan strategi pengadaan yang cerdas, mungkin lewat kerja sama internasional atau mendorong industri pertahanan dalam negeri.
Di tengah segala tantangan itu, Kopassus punya modal berharga: pengalaman. Pengalaman panjang dalam operasi asimetris jadi fondasi yang kokoh untuk beradaptasi dengan konsep perang hibrida. Budaya organisasi mereka yang mengutamakan kecepatan, ketepatan, dan kerahasiaan juga merupakan keunggulan tersendiri. Yang dibutuhkan sekarang adalah akselerasi. Agar semua keunggulan lama itu tetap relevan di era sekarang.
Momentum ulang tahun ke-74 ini harus jadi titik tolak. Transformasi tidak bisa setengah-setengah atau terlalu lambat. Perlu lompatan strategis. Mulai dari mereformulasi doktrin, meningkatkan kualitas SDM, sampai mengintegrasikan teknologi secara menyeluruh. Tanpa itu, risiko untuk tertinggal dalam menghadapi ancaman modern akan semakin besar.
Pada akhirnya, kesuksesan Kopassus menghadapi era baru ini tergantung pada satu hal: kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Sebagai satuan elite, mereka harus jadi yang terkuat sekaligus yang paling luwes. Di dunia yang serba tidak pasti ini, fleksibilitas dan inovasi adalah kunci utamanya. Masa depan Kopassus akan ditentukan di sana.
Dirgahayu Kopassus Ke-74. "Berani, Benar, Berhasil".
"Penulis adalah Pemerhati Isu Strategis dan Doktor Ilmu Komunikasi Unpad
Artikel Terkait
Kemlu Tegas: Usulan AS Soal Akses Bebas Ruang Udara Tak Masuk Kerja Sama Pertahanan
Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Dilimpahkan ke Pengadilan Meski Korban Belum Dimintai Keterangan
Gubernur DKI: Masa Depan Jakarta Ada di Kepulauan Seribu
Jaksel Gelar Operasi Tangkap dan Musnah Ikan Sapu-sapu di Setu Babakan