Menkeu Purbaya Tolak Tawaran Pinjaman IMF, Sebut Ketahanan Fiskal Masih Kuat

- Kamis, 16 April 2026 | 08:20 WIB
Menkeu Purbaya Tolak Tawaran Pinjaman IMF, Sebut Ketahanan Fiskal Masih Kuat

JAKARTA – Dalam kunjungan kerjanya ke Amerika Serikat, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mendapat tawaran yang cukup menarik. Managing Director IMF, Kristalina Georgieva, menyodorkan opsi pinjaman kepada pemerintah Indonesia. Tawaran ini dimaksudkan sebagai bantalan fiskal, sebuah jaring pengaman di tengah ketidakpastian ekonomi global yang makin pelik.

Pertemuan dengan Georgieva sendiri adalah salah satu agenda utama diplomasi ekonomi Purbaya. Pembicaraan mereka berlangsung cukup mendalam.

Menurut Purbaya, Georgieva membuka percakapan dengan analisis dinamika geopolitik di Timur Tengah. Situasi di sana, pasca serangan AS, diprediksi tidak akan selesai dalam waktu singkat. Bahkan, muara dan bentuk kesepakatan damai pun masih sangat sulit diprediksi.

Merespon hal itu, Purbaya lantas bertanya. Apa yang bisa dilakukan IMF untuk meredam efek ekonomi dari ketidakpastian semacam ini?

"Dia bilang IMF tidak punya otoritas dalam hal itu. Tapi mereka menyediakan dana bantuan untuk negara-negara yang membutuhkan,"

Ujar Purbaya, mengutip percakapan mereka dalam keterangan resmi, Rabu (15/4/2026).

Namun begitu, tawaran itu langsung ditampik. Purbaya menegaskan ketahanan fiskal Indonesia masih sangat kuat, sehingga tidak memerlukan pinjaman dari IMF. Posisi anggaran kita cukup baik, dan masih ada bantalan yang besar.

"Tentu saja Indonesia tidak membutuhkan. Kita masih punya bantalan yang cukup besar, 420 triliun yang saya bilang sebelumnya,"

tuturnya lagi.

Di sisi lain, Purbaya justru mengklaim bahwa IMF terkesan dengan performa fiskal Indonesia. Di saat banyak negara khawatir dengan pelambatan pertumbuhan, kebijakan pemerintah dinilai mampu menjaga stabilitas. Beberapa langkah, seperti injeksi likuiditas ke perbankan, disebut sebagai salah satu penopang utama.

Purbaya juga memaparkan sejumlah indikator makro lain di depan pihak IMF, misalnya daya konsumsi rumah tangga yang tetap terjaga. Kebijakan anggaran yang digulirkan sejak tahun lalu, klaimnya, terbukti berdampak positif saat dunia dilanda gejolak seperti inflasi harga minyak.

"Dan dia kelihatannya senang dengan keadaan seperti itu. Tapi mereka tidak akan melakukan kebijakan khusus untuk membantu negara-negara lain. Yang jelas, mereka akan memberitahukan ke seluruh dunia negara-negara mana saja yang performancenya bagus,"

urai Purbaya, menutup penjelasannya.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar