Senin pagi ini, Rupiah menyambut bulan Desember dengan langkah kecil yang optimis. Mata uang kita dibuka sedikit lebih kuat melawan Dolar AS, melanjutkan dinamika pasar yang selalu menarik untuk disimak.
Berdasarkan pantauan Bloomberg, Rupiah bergerak ke posisi Rp16.658 per dolar. Angka ini menunjukkan kenaikan tipis 0,10 persen dari posisi penutupan Jumat lalu di level Rp16.675. Pergerakannya sejalan dengan tren sejumlah mata uang kawasan Asia. Yen Jepang, misalnya, tercatat menguat 0,40 persen. Dolar Singapura dan Won Korea juga bergerak naik, meski tipis.
Namun begitu, tidak semua bernasib sama. Di sisi lain, Dolar Hong Kong dan Rupee India justru terlihat melemah. Indeks Dolar AS sendiri merangkak naik 0,06 persen ke 99,39.
Lantas, bagaimana prospeknya sepanjang hari? Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi pergerakan Rupiah hari ini akan fluktuatif. Ia memproyeksikan penutupan perdagangan nanti bisa berada di rentang Rp16.670 hingga Rp16.710 per dolar AS. Artinya, potensi pelemahan masih mengintai.
Sentimen dari luar negeri cukup dominan. Pasar global saat ini dipenuhi harapan akan pelonggaran kebijakan dari The Fed. Meski data ekonomi AS terakhir beragam, keyakinan para trader tampaknya kuat. Mereka memprediksi bank sentral AS itu akan memangkas suku bunga dalam pertemuan Desember nanti.
Bahkan, alat pantau CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitasnya mencapai sekitar 85 persen untuk penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin. Angka yang cukup signifikan untuk jadi pertimbangan.
Dari dalam negeri, ada angin segar yang coba ditiupkan pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan proyeksi yang positif. Menurutnya, kebijakan pemindahan dana pemerintah dari BI ke bank-bank negara (Himbara) bakal mendongkrak pertumbuhan.
“Kebijakan ini akan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,2 persen pada Kuartal IV tahun ini,” klaim Purbaya.
Dengan stimulus itu, ia optimistis pertumbuhan ekonomi di tiga bulan penutup tahun Oktober, November, Desember bisa mencapai kisaran 5,6 hingga 5,7 persen. Sebuah target yang ambisius, tentunya, di tengah kondisi pasar yang tetap perlu diawasi ketat.
Artikel Terkait
PT Brigit Biofarmaka Gelar RUPST 2026 di Solo, Bahas Laporan Keuangan dan Penggunaan Laba
Dominasi Saham Unggulan Warnai Peta Pasar Modal Indonesia pada Maret 2026
Dharma Polimetal Bagikan Dividen Rp326,3 Miliar, Naik 62,8% dari Tahun Lalu
IHSG Naik Tipis, Saham NIRO dan DEFI Melonjak di Atas 34%