Deputi Gubernur BI Destry Damayanti mengonfirmasi bahwa pelemahan rupiah merupakan respons kolektif pasar terhadap eskalasi ketidakpastian global. Fenomena risk-off mendorong pergerakan modal menuju aset safe-haven seperti dolar AS, yang tercermin dari penguatan indeks dolar (DXY) dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika.
"DXY menunjukkan kecenderungan terus naik, demikian juga yield surat berharga Amerika. Kondisi ini mendorong arus risk-off di pasar emerging market, termasuk Indonesia," jelas Destry.
Situasi ini membatasi aliran modal asing masuk ke pasar negara berkembang. Meski volatilitas harian tetap terjadi, BI mencatat adanya tren pemulihan sesaat, dengan rupiah bahkan sempat menguat 0,21 persen dalam perdagangan tertentu.
Diversifikasi Instrumen: Strategi BI Kurangi Ketergantungan Dolar AS
Sebagai bagian dari strategi jangka menengah, BI mengumumkan rencana ekspansi operasi moneter menggunakan instrumen spot dan swap dalam mata uang yuan (CNY) dan yen Jepang (JPY). Langkah ini bertujuan memperdalam pasar valas domestik sekaligus mengurangi tekanan struktural terhadap dolar AS.
Destry menjelaskan, inisiatif ini didorong oleh permintaan transaksi yang semakin besar terhadap kedua mata uang tersebut, terutama melalui skema Local Currency Transaction (LCT) yang menunjukkan pertumbuhan eksponensial.
Fakta Transaksi LCT: Volume transaksi LCT hingga Oktober 2025 meningkat 1,6 kali lipat dibanding periode sama tahun sebelumnya. Jumlah peserta melonjak signifikan dari 5.053 partisipan (2024) menjadi 15.473 partisipan (2025).
Dengan tersedianya instrumen likuiditas alternatif, BI berharap perbankan dan korporasi dapat mengoptimalkan transaksi tanpa bergantung sepenuhnya pada dolar AS. Diversifikasi ini diyakini akan memperkuat ketahanan rupiah menghadapi dinamika global yang bergejolak.
Artikel Terkait
Stok Beras dan Minyak Goreng di Aceh Aman Jelang Ramadan, Bulog Pastikan Tak Ada Kelangkaan
Dari Reruntuhan Pasar Klewer, Dewi Aminah Bangun Kerajaan Bumbu dan Inspirasi
OJK Siapkan Aturan Free Float Baru, Pasar Modal Bakal Diguncang Mulai 2026
Gadai Tembus Rp125 Triliun, Sinyal Darurat atau Peluang di Tengah Krisis?