Analisis Harga Emas Pekan Depan: Prediksi Rp 2.378.000 & Dampak Freeport

- Minggu, 16 November 2025 | 23:20 WIB
Analisis Harga Emas Pekan Depan: Prediksi Rp 2.378.000 & Dampak Freeport
Proyeksi Harga Emas Pekan Depan: Analisis Kenaikan dan Potensi Penurunan

Analisis Proyeksi Harga Emas Pekan Depan: Potensi Kenaikan dan Penurunan

Harga emas dunia diprediksi akan menguat pada awal pekan, dengan potensi untuk menguji level resisten di kisaran USD 4.166 per troy ounce. Penguatan ini diperkirakan akan berdampak pada harga emas dalam negeri, yang berpeluang terkerek naik menuju level Rp 2.378.000 per gram.

Sebelumnya, harga emas global tercatat berada di posisi USD 4.084 per troy ounce. Meski menunjukkan sinyal kenaikan, pengamat pasar keuangan dan komoditas memproyeksikan bahwa penguatan harga emas pekan depan akan terbatas dan masih menyisakan ruang untuk potensi koreksi.

Level Support Kunci untuk Harga Emas

Analisis teknikal menunjukkan bahwa jika tekanan jual muncul, level support pertama untuk emas dunia berada di USD 3.996 per troy ounce. Pada level ini, harga logam mulia di dalam negeri diperkirakan akan berada sekitar Rp 2.338.000 per gram.

Lebih lanjut, jika tekanan jual berlanjut, support kedua diproyeksikan berada di level USD 3.900. Pada skenario ini, harga emas lokal berpotensi mengalami penurunan menuju level Rp 2.298.000 per gram. Pergerakan harga emas dalam sepekan ke depan diperkirakan masih akan fluktuatif.

Faktor Ekonomi Global yang Memengaruhi Harga Emas

Perkembangan ekonomi di Amerika Serikat menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi volatilitas harga emas. Pengesahan RUU pendanaan pemerintah AS yang baru efektif pada Senin pekan depan diperkirakan akan mengakhiri masa government shutdown yang sempat membebani aktivitas ekonomi.

Ketidakpastian juga muncul karena tertundanya sejumlah data ekonomi kunci, seperti inflasi dan pengangguran, yang gagal dirilis. Kondisi ini membuat pasar kesulitan menilai arah kebijakan suku bunga The Fed di masa mendatang.

Dampak Ketegangan Geopolitik pada Logam Mulia

Di tengah ketidakpastian ekonomi, ketegangan geopolitik dinilai akan terus menjadi pendorong utama harga emas. Eskalasi di Timur Tengah, yang ditandai dengan konfirmasi penyitaan kapal tanker AS oleh Iran, menambah premi risiko di pasar.

Selain itu, ketegangan antara Rusia dan Ukraina juga berpotensi mengganggu pasokan minyak global, yang secara tidak langsung dapat mendukung kenaikan harga aset safe-haven seperti emas.

Keterbatasan Pasokan Emas dari Dalam Negeri

Faktor domestik juga turut berperan. Pasokan emas dari dalam negeri diprediksi semakin terbatas menyusul penghentian operasi tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) milik Freeport. Pengurangan stok logam mulia ini berpotensi menjadi catalyst tambahan untuk kenaikan harga emas ke depannya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar