Prediksi IHSG Pekan Depan: Waspada Death Cross & Sikap BI

- Minggu, 16 November 2025 | 09:20 WIB
Prediksi IHSG Pekan Depan: Waspada Death Cross & Sikap BI
Prediksi IHSG Pekan Depan: Analisis Teknikal dan Faktor BI

Analisis dan Proyeksi Pergerakan IHSG Pekan Depan

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG diprediksi akan mengalami pergerakan yang terbatas pada pekan mendatang. Fokus utama para pelaku pasar tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung. Selain itu, publikasi data pertumbuhan kredit dan M2 Money Supply juga akan menjadi katalis penting yang diamati investor.

Sinyal Teknikal Menunjukkan Tekanan Jangka Pendek

Dari perspektif analisis teknikal, indeks saat ini berada di bawah tekanan untuk jangka pendek. Meskipun indikator MACD masih berada di area positif, momentum penguatannya mulai menunjukkan perlambatan. Kondisi ini mengisyaratkan potensi terbentuknya pola Death Cross yang perlu diwaspadai trader.

Di sisi lain, indikator Stochastic RSI tercatat masih bertahan di zona overbought. Dominasi volume jual terlihat jelas, dengan garis Accumulation/Distribution yang mengindikasikan fase distribusi sedang berlangsung di pasar.

Level Kunci Support dan Resistance IHSG

Analis memproyeksikan bahwa IHSG berpotensi untuk menguji area support terdekat. Level support kunci diperkirakan berada pada kisaran. Sementara itu, level resistance utama berada di, dengan titik pivot di.

Penting untuk dicatat bahwa meskipun terdapat tekanan jangka pendek, tren IHSG dalam jangka menengah hingga panjang masih dinilai berada dalam kondisi bullish. Oleh karena itu, pelemahan yang terjadi saat ini lebih dipandang sebagai koreksi dalam kerangka tren naik yang lebih besar.

Ringkasan Perdagangan Sebelumnya

Pada penutupan perdagangan terakhir, IHSG ditutup melemah tipis. Indeks sempat menghabiskan sebagian besar sesi di zona hijau, namun tekanan jual yang muncul di akhir sesi perdagangan mendorong indeks untuk berbalik melemah. Secara mingguan, IHSG tercatat mengalami penurunan.

Dari sisi sektoral, saham-saham industri mencatatkan koreksi terdalam, sementara sektor infrastruktur menjadi penopang utama dengan catatan penguatan terbesar. Nilai tukar Rupiah sendiri bergerak menguat, sementara mayoritas bursa saham di kawasan Asia ditutup melemah, mengikuti tekanan dari pelemahan yang terjadi di Wall Street.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar