2 Jenis Makanan Paling Berbahaya untuk Otak, Risiko Demensia Meningkat 17%

- Kamis, 06 November 2025 | 15:06 WIB
2 Jenis Makanan Paling Berbahaya untuk Otak, Risiko Demensia Meningkat 17%

Penelitian terbaru mengungkap dua jenis makanan paling berbahaya bagi kesehatan otak: daging olahan dan minuman manis kemasan. Studi Virginia Tech menunjukkan konsumsi rutin kedua makanan ini secara signifikan meningkatkan risiko penurunan fungsi kognitif, demensia, dan Alzheimer.

Riset Membuktikan Dampak Buruk Makanan Ultra-Proses

Analisis data dari University of Michigan Health and Retirement Study yang melibatkan 4.750 peserta usia 55 selama tujuh tahun membuktikan fakta mengejutkan. Dari berbagai jenis makanan ultra-proses, daging olahan dan minuman manis terbukti paling merusak kesehatan otak.

Angka Risiko yang Mengkhawatirkan

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Clinical Nutrition menunjukkan:
- Konsumsi satu porsi tambahan daging olahan per hari meningkatkan risiko gangguan kognitif sebesar 17%
- Konsumsi rutin minuman manis kemasan meningkatkan risiko sebesar 6%

Mengapa Daging Olahan dan Minuman Manis Paling Berbahaya?

Meskipun makanan ultra-proses secara umum berdampak buruk bagi kesehatan, penelitian ini menjadi yang pertama mengidentifikasi kategori spesifik yang paling berisiko bagi otak. Kombinasi pizza daging olahan dan segelas cola disebut sebagai "bom ganda" bagi kesehatan kognitif.

Langkah Sederhana Melindungi Otak

Para peneliti menekankan pentingnya moderasi dalam konsumsi makanan. Mengurangi daging olahan dan minuman manis merupakan langkah paling efektif untuk mencegah penurunan fungsi otak. Kembali ke masakan rumahan dan menghindari makanan ultra-proses menjadi kunci utama.

Solusi Jangka Panjang

Data menunjukkan lebih dari separuh asupan kalori harian masyarakat modern berasal dari makanan ultra-proses. Untuk mengatasi tren berbahaya ini, peneliti merekomendasikan program memasak sebagai bagian dari kesehatan masyarakat. Kemampuan memasak makanan sehat sendiri menjadi senjata ampuh melindungi kesehatan otak jangka panjang.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar