Smartphone di Tangan Bocah 12 Tahun: Risiko Gangguan Tidur dan Obesitas Melonjak

- Jumat, 02 Januari 2026 | 10:06 WIB
Smartphone di Tangan Bocah 12 Tahun: Risiko Gangguan Tidur dan Obesitas Melonjak

Studi yang sama juga menemukan perbedaan berdasarkan jenis aktivitas. Penggunaan video game tinggi berkaitan dengan masalah internal seperti kecemasan dan depresi. Sementara media sosial yang tinggi cenderung dikaitkan dengan perilaku eksternal, seperti agresivitas.

Menurut Yunyu Xiao, profesor ilmu kesehatan populasi di Weill Cornell Medicine, temuan ini menunjukkan ada kelompok anak yang memang lebih rentan terhadap dampak negatif platform daring.

Kognisi, Memori, Fokus, dan Belajar

Desember 2025, serangkaian analisis baru dari data ABCD kembali dirilis. Salah satunya di JAMA menelaah hubungan media sosial dengan kinerja kognitif anak usia 9 hingga 13 tahun. Peneliti membagi anak ke dalam tiga kelompok: yang hampir tidak menggunakan, pengguna rendah yang meningkat, dan pengguna tinggi yang terus naik.

Anak di dua kelompok terakhir menunjukkan performa kognitif yang sedikit lebih rendah dalam berbagai tes mulai dari membaca, memori, hingga kosakata. Perbedaannya mungkin tidak dramatis, tapi konsisten.

Jason Nagata dari University of California, San Francisco, penulis utama studi itu, memberikan analogi sederhana.

“Selisih ini bisa dianalogikan seperti nilai sekolah yang turun dari A ke B,” katanya.

“Yang mengejutkan saya,” lanjut Nagata, “bahkan pengguna yang jarang sekitar satu jam media sosial per hari sudah menunjukkan penurunan kognitif dibandingkan mereka yang sama sekali tidak menggunakan.”

Studi lain di jurnal Pediatrics menemukan bahwa media sosial bukan game atau menonton berkaitan dengan meningkatnya gejala kurang perhatian.

“Media sosial memberi distraksi konstan,” ujar Torkel Klingberg, profesor neurosains kognitif dari Karolinska Institutet. “Kalau bukan notifikasinya, ya pikiran tentang apakah ada pesan baru.”

Analisis lain yang dipimpin Barzilay, terbit di Pediatrics awal Desember 2025, menyoroti usia pemberian smartphone pertama. Kesimpulannya sejalan dengan studi internasional besar sebelumnya: dapat ponsel sebelum 13 tahun dikaitkan dengan kesehatan mental yang lebih buruk di usia dewasa muda, terutama pada perempuan.

Meski begitu, Barzilay menegaskan dirinya tidak anti-teknologi.

“Teknologi punya banyak manfaat. Tapi keputusan kapan anak diberi ponsel harus diambil dengan serius,” tegasnya.

Para ahli sepakat, solusi paling efektif bukan larangan keras, melainkan teladan. Anak cenderung meniru kebiasaan orang tuanya, terutama soal penggunaan ponsel di malam hari. Penelitian menunjukkan, mengurangi waktu layar secara bertahap bahkan cuma satu jam per hari lebih efektif dan berkelanjutan ketimbang berhenti total secara drastis.

Pada akhirnya, peran orang tua tetap kunci. Biarkan anak menjadi anak. Gawai, sebaiknya memang menunggu sampai mereka matang, baik secara usia maupun pikiran.


Halaman:

Komentar