Pernah nggak sih, memperhatikan anak yang di sekolah rajin sekali, tapi di rumah malah ogah-ogahan mengerjakan PR? Fenomena ini kayaknya makin umum aja. Di kelas, mereka duduk manis, perhatiannya tertuju ke guru. Tapi begitu sampai rumah, buku pelajaran seolah kalah pamor dengan gemerincing notifikasi dan warna-warni game di ponsel.
Sebagai orang yang sering berinteraksi dengan dunia pendidikan, saya kerap menjumpai hal ini. Lingkungan sekolah memang punya ritmenya sendiri. Semua terstruktur: guru mengarahkan, jadwal sudah pasti, aturan pun jelas. Dalam setting seperti itu, anak lebih mudah fokus dan menyelesaikan kewajibannya.
Namun begitu, suasana bisa berubah total saat mereka melewati pintu rumah. Di sinilah, menurut pengamatan saya, gadget sering mengambil alih peran. Ponsel jadi hiburan yang tersedia 24 jam, tanpa ada bel istirahat yang jelas. Alhasil, waktu belajar pun tergerus, dan tugas-tugas menumpak jadi beban yang ditunda-tunda.
Ketika Rumah Berbeda dengan Kelas
Jangan buru-buru menyalahkan si anak sebagai pemalas. Soalnya, lingkungan rumah punya pengaruh yang luar biasa besar. Tanpa pendampingan dan aturan main yang konsisten soal gawai, anak bakal bingung membedakan mana waktu untuk serius, mana waktu untuk bersantai.
Di sisi lain, anak itu peniru ulung. Coba perhatikan, kalau orang dewasa di rumah juga sibuk sendiri dengan layar masing-masing, apa yang akan ditangkap oleh anak? Pesannya sederhana: gadget adalah pusat dunia. Dalam kondisi seperti ini, wajar saja kalau kebiasaan disiplin dari sekolah perlahan menguap.
Lalu, solusinya apa? Kuncinya sebenarnya ada pada kolaborasi. Apa yang dibangun di sekolah harus dapat penguatan di rumah. Gadget nggak perlu diharamkan, tapi perlu dikelola dengan bijak. Misalnya, buat kesepakatan bareng: tugas sekolah harus beres dulu, baru boleh main gim atau buka media sosial.
Pada akhirnya, teknologi bukanlah musuh. Tantangan sebenarnya terletak pada bagaimana kita mengelolanya. Kalau rumah bisa menciptakan atmosfer yang mendukung dengan contoh dan aturan yang jelas anak akan lebih mudah membawa kebiasaan baiknya dari sekolah. Mereka tetap bisa menikmati kemajuan zaman, tanpa harus mengorbankan tanggung jawabnya sebagai pelajar.
Artikel Terkait
Cara Nonaktifkan Suara Jepretan Kamera iPhone Sesuai Model
Domain AI.com Terjual Rp1,1 Triliun, Pecahkan Rekor Termahal Sepanjang Sejarah
Koktail Berasap Berujung Tragis, Lambung Pria Ini Pecah Usai Teguk Nitrogen Cair
Petrichor: Aroma Hujan yang Menenangkan Pikiran dan Mengembalikan Keseimbangan