Kotoran Kotak Wombat: Media Sosial Tanpa Smartphone di Alam Liar

- Selasa, 23 Desember 2025 | 10:36 WIB
Kotoran Kotak Wombat: Media Sosial Tanpa Smartphone di Alam Liar

Membahas kotoran memang bukan topik yang glamor. Tapi coba lihat kotoran hewan yang satu ini. Bentuknya aneh banget, persegi seperti kubus. Ya, kubus.

Hewannya adalah wombat, makhluk asli Australia yang penuh kejutan. Salah satu keanehan yang sudah lama jadi teka-teki adalah kotoran kotak mereka. Bukan cuma bentuknya yang unik, tapi juga cara mereka menatanya ditumpuk rapi di atas batu atau kayu, layaknya menara kecil dari balok-balok coklat.

Selama ini, banyak yang menduga bentuk kotak itu cuma kebetulan evolusi agar kotorannya tidak menggelinding. Tapi rupanya, ada alasan yang jauh lebih menarik.

Menurut penelitian terbaru di Journal of Zoology, tumpukan kotoran itu bukan sekadar sampah. Itu adalah media sosial mereka. Alat komunikasi.

“Ada banyak tanda bahwa ‘toilet umum’ ini penting bagi wombat,” jelas Scott Carver, profesor di Odum School of Ecology, University of Georgia, yang memimpin studi ini.
“Mereka pilih objek yang menonjol, kayak batang kayu atau batu besar, lalu menumpuk kotoran di situ. Kami duga ini berkaitan dengan komunikasi lewat bau, tapi riset soal ini hampir tak ada.”

Nah, untuk membuktikannya, para peneliti mulai dari hidung wombat. Mereka menemukan organ vomeronasal, struktur khusus untuk mencium bau, mirip yang dimiliki kucing. Itu petunjuk pertama bahwa penciuman adalah hal besar bagi wombat.

Langkah berikutnya? Datang langsung ke ‘tempat nongkrong’ mereka. Para ilmuwan mengumpulkan beberapa kubus kotoran itu dan menganalisis komposisi kimianya. Hasilnya, mereka menemukan jejak kimia unik di setiap kotoran semacam tanda tangan aroma.

“Kami temukan bahwa setiap wombat punya ciri kimia yang berbeda dalam kotorannya,” kata Carver. “Mereka punya indera penciuman yang bagus dan campuran kimia yang khas. Kemungkinan besar, mereka bisa saling mengenali satu sama lain lewat ini.”

Jadi, apa yang kita lihat sebagai tumpukan kotoran tak berarti, bagi wombat adalah papan informasi. Lewat aroma itu, mereka bisa tahu siapa yang lagi ada di wilayah tersebut, apakah ada pendatang baru, bahkan mungkin status reproduksi atau jenis kelaminnya.

Bayangkan seperti aplikasi kencan, tapi tanpa smartphone. Cuma pakai kubus-kubus kotoran. Bagi hewan penyendiri seperti wombat, ini cara yang brilian untuk tetap terhubung tanpa harus bertemu.

Penelitian ini masih awal, sih. Dari 44 senyawa kimia yang berhasil diidentifikasi, belum semua artinya dipahami. Tapi Carver optimis. Dia berharap riset lanjutan bisa mengungkap lebih banyak rahasia dari hewan ikonik Australia ini.

“Banyak dari kita punya kucing atau anjing. Kita lihat mereka mengendus lama di semak dan kita tahu mereka menangkap sesuatu yang tidak kita pahami. Dunia penciuman mereka jauh lebih kompleks,” ujarnya.
“Wombat itu hewan soliter. Kalau kamu hidup sendirian, gimana caramu berkomunikasi dengan yang lain?”

Pertanyaan itu yang akhirnya terjawab dengan cara yang tak terduga: melalui menara-menara kecil beraroma, yang bagi kita cuma tumpukan kotoran kotak.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar