BI Desak Bank Turunkan Suku Bunga: Kredit Lebih Murah Segera Hadir?

- Rabu, 22 Oktober 2025 | 16:15 WIB
BI Desak Bank Turunkan Suku Bunga: Kredit Lebih Murah Segera Hadir?
Belum Cepat Turun, BI Desak Perbankan Percepat Transmisi Suku Bunga

Bank Indonesia (BI) menyoroti lambatnya penurunan suku bunga di perbankan. Hal ini terjadi meskipun bank sentral telah melakukan pelonggaran kebijakan moneter secara agresif dan pemerintah telah menempatkan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) di perbankan. BI pun mendesak sektor perbankan untuk mempercepat transmisi penurunan suku bunga kredit dan deposito.

Penurunan Drastis di Pasar Keuangan

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, seiring penurunan BI-Rate sebesar 150 bps sejak September 2024, suku bunga acuan pasar uang (INDONIA) telah turun drastis sebesar 204 bps. Angka ini turun dari 6,03 persen di awal 2025 menjadi 3,99 persen per 21 Oktober 2025.

Penurunan signifikan juga terjadi pada instrumen lain. Imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan rata-rata turun lebih dari 250 bps. Di pasar Surat Berharga Negara (SBN), imbal hasil tenor 2 tahun turun 218 bps menjadi 4,78 persen, sementara tenor 10 tahun turun 132 bps menjadi 5,94 persen.

Kontras dengan Suku Bunga Perbankan

Namun, kondisi tersebut sangat kontras dengan suku bunga yang ditawarkan perbankan kepada nasabah. BI mencatat, suku bunga deposito 1 bulan hanya turun 29 bps, dari 4,81 persen menjadi 4,52 persen pada September 2025.

Lambatnya penurunan deposito ini, menurut BI, dipengaruhi oleh pemberian suku bunga khusus (special rate) yang tinggi kepada deposan besar. Kelompok deposan ini menguasai hingga 26 persen dari total Dana Pihak Ketiga (DPK) bank.

Transmisi Suku Bunga Kredit Lebih Lambat Lagi

Kondisi suku bunga kredit bahkan berjalan lebih lambat. Dibandingkan pemangkasan BI Rate 150 bps, suku bunga kredit perbankan hanya turun 15 bps, dari 9,20 persen di awal tahun menjadi 9,05 persen pada September 2025.

Bank Indonesia menekankan bahwa kecepatan transmisi suku bunga di perbankan harus segera didorong. Langkah ini sejalan dengan tujuan kebijakan moneter longgar untuk mendukung pemulihan dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar