Dalam setiap aksi demonstrasi mahasiswa, kerap terlihat barisan polisi wanita (polwan) berdiri di paling depan berhadapan langsung dengan massa. Pertanyaannya, mengapa polwan yang ditempatkan di posisi tersebut? Sebagian kalangan menilai langkah ini bukan tanpa maksud tersembunyi.
Seorang pengguna media sosial dengan akun @bbarbieie menyoroti praktik ini dalam cuitannya yang ramai diperbincangkan. Ia menuding penempatan polwan di garis terdepan merupakan strategi aparat untuk membatasi gerak mahasiswa. Pasalnya, jika terjadi kontak fisik, mahasiswa bisa dengan mudah dituduh melecehkan polwan. "Dulu pernah kejadian polwan kesenggol mahasiswa pas lagi demo, narasinya langsung kemana-mana," tulisnya.
Unggahan itu memicu beragam respons. Akun @akuhanyaaku24 menambahkan, "Iyaa. Ini liciknya mereka. Biar mahasiswa gak berusaha terobos, makanya polwan ditaro di depan." Sementara itu, akun @__Reepicheep menyayangkan situasi tersebut. "Rakyat menyampaikan aspirasi aja udah kaya mau perang," ujarnya.
Kritik yang berkembang menilai aparat menggunakan perempuan sebagai tameng untuk menghadapi massa aksi. Dengan begitu, mahasiswa yang mencoba maju atau mendorong akan berhadapan dengan polwan, sehingga rawan dituduh melakukan pelecehan. Akibatnya, demonstran berada dalam posisi serba salah: maju dituduh melecehkan, mundur dianggap takut. Pada akhirnya, yang terjadi adalah konflik antarwarga, bukan antara rakyat dan aparat.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar tentang etika pengamanan aksi. Apakah penempatan polwan di barisan terdepan benar-benar bagian dari strategi pengendalian massa yang humanis, atau justru menjadi bumerang yang memicu eskalasi? Yang jelas, narasi yang terbentuk di ruang publik semakin mempertegas ketidakpercayaan terhadap aparat.
Artikel Terkait
Menjadi Polwan: Dari Main Character Syndrome Menuju Jiwa Korsa
Polda Riau Latih 70 Polwan Kemampuan Public Speaking dan Negosiasi
Polda Sumbar Hentikan Penyelidikan Dugaan Pelecehan Polwan oleh AKBP F, Korban Ajukan Keberatan
Kronologi Dugaan Pelecehan Polwan oleh Atasan di Sumbar: Suami Korban Mendengar Lewat Video Call