Untuk pertama kalinya dalam sejarah, total utang pemerintah federal Amerika Serikat menembus angka 40 triliun dolar AS. Departemen Keuangan AS melaporkan kewajiban bruto mencapai tepat 40.047.425.768.420,22 dolar pada Selasa (18/8/2026), sebuah tonggak yang mencerminkan memburuknya ketidakseimbangan fiskal negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu.
Angka tersebut merupakan akumulasi dari defisit anggaran yang terus berulang, belanja penanganan pandemi, pemotongan pajak, pembiayaan program sosial, serta meningkatnya beban bunga selama pemerintahan Donald Trump dan Joe Biden. Utang itu terdiri atas sekitar 32,266 triliun dolar dalam bentuk surat berharga yang dikuasai publik dan 7,782 triliun dolar berupa kewajiban antarlembaga pemerintah federal.
Para ekonom biasanya lebih menyoroti utang yang dipegang publik karena benar-benar harus dibiayai melalui pasar. Sementara itu, utang bruto mencakup seluruh kewajiban pemerintah, termasuk yang secara internal dipegang lembaga negara. Besaran 40 triliun dolar setara dengan sekitar 40.000 miliar dolar, mendekati gabungan nilai tahunan perekonomian China, Jerman, Jepang, India, dan Inggris. Jika dibagi rata, beban itu mencapai sekitar 117.000 dolar per penduduk atau 297.000 dolar per rumah tangga Amerika, meski bukan tagihan pribadi yang harus dibayar langsung.
Yang mengejutkan, tambahan satu triliun dolar terakhir terkumpul dalam waktu kurang dari lima bulan setelah utang menembus 39 triliun dolar pada Maret 2026. Sebagai perbandingan, Amerika membutuhkan hampir dua abad untuk mencapai utang satu triliun dolar pada 1981, tetapi kini hanya butuh beberapa bulan untuk menambah satu triliun dolar.
Berlipat Dua dalam Kurun Satu Dasawarsa
Beban utang kini lebih dari dua kali lipat dibandingkan 19,95 triliun dolar saat Donald Trump pertama kali dilantik pada Januari 2017. Sekitar sepertiga kenaikan terjadi ketika pemerintahan Trump dan Biden meminjam besar-besaran untuk membiayai layanan kesehatan, bantuan tunai, perlindungan pekerjaan, dan penyelamatan ekonomi selama pandemi Covid-19.
Berdasarkan perhitungan Reuters, utang federal bertambah sekitar 7,8 triliun dolar selama masa jabatan pertama Trump, sementara sejak ia kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025, kenaikannya mencapai sekitar 3,8 triliun dolar. Dengan demikian, total peningkatan utang selama dua periode Trump sejauh ini sekitar 11,6 triliun dolar, sedangkan pada era Biden utang bertambah sekitar 8,4 triliun dolar. Kenaikan pada era Biden selain karena pemulihan pandemi juga dipengaruhi pembiayaan infrastruktur, subsidi energi bersih, dan program sosial. Sementara kebijakan Trump ditandai pemotongan pajak, belanja pandemi, pengeluaran pertahanan, dan berbagai paket kebijakan pada masa jabatan keduanya.
Komite untuk Anggaran Federal yang Bertanggung Jawab (CRFB) menilai keputusan fiskal kedua pemerintahan telah mempercepat pertumbuhan utang melampaui lintasan yang diperkirakan jika kebijakan sebelumnya dibiarkan. Presiden CRFB Maya MacGuineas memperingatkan bahwa utang 40 triliun dolar bukan sekadar angka pembukuan karena dampaknya mengalir ke perekonomian melalui pembayaran bunga, tekanan inflasi, menyempitnya ruang anggaran, dan berkurangnya kemampuan pemerintah menghadapi krisis baru.
Defisit pemerintah pada Juli 2026 saja mencapai 432 miliar dolar, menjadi defisit bulanan terbesar keempat dalam sejarah AS, ketika pengeluaran untuk Jaminan Sosial dan Medicare meningkat sementara penerimaan tertentu melemah. Defisit selama sepuluh bulan pertama tahun fiskal 2026 bahkan telah melampaui keseluruhan kekurangan anggaran tahun fiskal 2025, padahal masih tersisa dua bulan. Berdasarkan proyeksi Congressional Budget Office (CBO) pada Februari 2026, defisit federal diperkirakan mencapai 1,9 triliun dolar pada tahun fiskal 2026, setara 5,8 persen produk domestik bruto. Pemerintah diperkirakan memperoleh pendapatan sekitar 5,6 triliun dolar, tetapi harus membelanjakan sekitar 7,4 triliun dolar, sehingga jurang antara penerimaan dan pengeluaran terus memaksa penerbitan utang baru.
Bunga Utang Menjelma Raksasa Anggaran
Masalah terbesar bukan semata-mata nilai pokok 40 triliun dolar, melainkan bunga yang harus dibayar setiap tahun dan terus meningkat ketika surat utang lama dibiayai kembali pada tingkat imbal hasil yang lebih tinggi. Pengeluaran bersih untuk bunga diproyeksikan mencapai sekitar satu triliun dolar pada 2026, bahkan biaya pembayaran utang pada tahun fiskal 2025 untuk pertama kalinya melampaui anggaran Pentagon. Dalam sepuluh bulan pertama tahun fiskal 2026, biaya bunga telah melampaui belanja Medicare dan menjadi pos pengeluaran terbesar kedua pemerintah federal setelah Jaminan Sosial.
CBO memperkirakan pembayaran bunga bersih dapat meningkat menjadi 2,1 triliun dolar pada 2036, sedangkan utang yang dikuasai publik berpotensi mencapai sekitar 120 persen produk domestik bruto. Pembengkakan biaya tersebut dipicu oleh kombinasi bertambahnya jumlah utang, tingginya suku bunga, penuaan generasi baby boom, meningkatnya biaya kesehatan, dan penerimaan pajak yang tidak mampu mengimbangi seluruh pengeluaran federal. Sekitar 60 persen dari anggaran tahunan Amerika yang bernilai kurang lebih tujuh triliun dolar dialokasikan untuk program wajib seperti Jaminan Sosial, Medicare, Medicaid, perawatan veteran, dan manfaat lain yang relatif sulit dipangkas dalam waktu singkat. Pemotongan belanja diskresioner atau pengurangan pegawai federal tidak cukup menyelesaikan persoalan struktural apabila pemerintah dan Kongres tidak menyentuh program wajib, sistem perpajakan, serta biaya kesehatan yang menjadi penggerak utama anggaran jangka panjang.
Getarannya Menjalar ke Kredit Rumah hingga Pasar Dunia
Penerbitan obligasi dalam jumlah besar dapat membuat investor menuntut imbal hasil lebih tinggi, yang kemudian berpotensi menaikkan bunga hipotek, kredit kendaraan, pembiayaan perusahaan, dan biaya modal bagi kegiatan produktif. Imbal hasil obligasi pemerintah AS berjangka 30 tahun sempat mencapai sekitar 5,34 persen pada Selasa (18/8/2026), level tertinggi dalam hampir dua dekade, ketika pasar mempertimbangkan inflasi, suplai surat utang, risiko fiskal, dan ketidakpastian geopolitik.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent kemudian mengumumkan pelipatgandaan pembelian kembali obligasi berjangka 10 hingga 30 tahun menjadi sedikitnya empat miliar dolar per operasi untuk memperkuat likuiditas dan membantu meredakan tekanan pasar. Pembelian kembali tersebut tidak menghapus utang federal karena pemerintah hanya menata ulang komposisi kewajibannya, tetapi langkah itu memperlihatkan meningkatnya kepekaan Washington terhadap lonjakan biaya pembiayaan jangka panjang.
Pelemahan permintaan investor asing juga perlu diperhatikan karena pemodal global menguasai hampir sepertiga surat berharga pemerintah AS, sehingga perubahan kepercayaan mereka dapat memengaruhi nilai dolar, imbal hasil obligasi, harga emas, dan arus modal internasional. Utang pemerintah yang tinggi juga dapat mendesak keluar investasi swasta karena negara dan perusahaan bersaing memperebutkan dana yang sama, sehingga biaya modal meningkat dan pertumbuhan produktivitas berpotensi melambat.
Namun, terlampauinya angka 40 triliun dolar tidak berarti Amerika langsung bangkrut karena pemerintah masih mempunyai kapasitas perpajakan yang besar, pasar obligasi yang sangat dalam, dan dolar yang berstatus mata uang cadangan utama dunia. Risiko sebenarnya muncul apabila utang tumbuh terus-menerus lebih cepat daripada perekonomian, pembayaran bunga mengambil bagian semakin besar dari penerimaan negara, dan perselisihan politik menghambat keputusan fiskal sebelum kepercayaan investor memburuk. Amerika pernah memiliki rasio utang sangat tinggi seusai Perang Dunia II, tetapi rasio itu kemudian turun karena pertumbuhan ekonomi yang kuat, disiplin fiskal, inflasi, dan berakhirnya kebutuhan belanja perang, sedangkan kondisi saat ini ditandai program permanen serta populasi yang menua.
Persoalan Politik yang Tak Kunjung Diselesaikan
Kelompok Republik cenderung mengusulkan pengendalian belanja dan program tunjangan, sedangkan Demokrat lebih banyak mendorong peningkatan pajak terhadap warga kaya dan perusahaan, tetapi tidak satu pun pendekatan dapat menstabilkan utang apabila dijalankan secara parsial. Ketua Komite Anggaran DPR AS Jodey Arrington menyerukan amendemen konstitusi mengenai anggaran berimbang karena menilai utang nasional telah menggadaikan masa depan generasi mendatang untuk membayar janji belanja hari ini.
Para pengawas anggaran menegaskan bahwa solusi teknis sebenarnya telah diketahui, yakni memadukan peningkatan pendapatan, evaluasi pengeluaran, reformasi Jaminan Sosial serta layanan kesehatan, dan perlindungan investasi publik yang meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pilihan tersebut tetap sulit secara politik karena kenaikan pajak tidak populer, sedangkan pemotongan Jaminan Sosial, Medicare, Medicaid, pertahanan, atau bantuan masyarakat langsung menyentuh kepentingan jutaan warga.
Karena itu, tonggak 40 triliun dolar harus dipahami bukan sebagai hari kebangkrutan Amerika, melainkan alarm ilmiah bahwa negara adidaya tersebut sedang kehilangan ruang fiskal dan menghadapi biaya yang semakin mahal untuk mempertahankan janji ekonominya. Tanpa kesepakatan lintas partai yang menyeimbangkan penerimaan dengan pengeluaran, Amerika berisiko memasuki lingkaran utang ketika defisit melahirkan pinjaman baru, pinjaman memperbesar bunga, dan bunga kembali memperlebar defisit.
Artikel Terkait
Harga Minyak Mentah Melonjak Akibat Ancaman Ekonomi AS terhadap Iran
Trump Klaim Korut Punya 57 Nuklir, Korsel Bantah
Iran Kecam Sanksi Ekonomi AS, Sebut sebagai Terorisme Ekonomi dan Pengalihan Isu
Trump Umumkan Perang Ekonomi Terbesar terhadap Iran, Ancaman Sanksi bagi Negara yang Membantu