Samsung Galaxy Z Fold 8 berhasil mencuri perhatian generasi muda di Korea Selatan, terutama perempuan yang selama ini identik dengan pengguna setia iPhone. Desainnya yang tipis, ringan, dan berbentuk seperti paspor menjadi daya tarik utama ponsel lipat terbaru ini.
Di Korea Selatan, jumlah pre-order Galaxy Z Fold 8 mencapai 1,44 juta unit, tertinggi sepanjang sejarah perangkat Galaxy. Secara global, penjualan kumulatifnya pun telah menembus 5 juta unit.
Samsung menyebut, sekitar setengah konsumen yang melakukan pre-order berasal dari kelompok usia remaja hingga 30-an tahun. Di dalam kelompok tersebut, pembelian oleh perempuan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan model sebelumnya.
"Jika mempertimbangkan bahwa 67 persen perempuan Korea berusia 20-an menggunakan iPhone, peningkatan pembelian di kalangan perempuan usia remaja hingga 30-an ini cukup signifikan," kata seorang sumber yang tidak disebutkan namanya sebagaimana dikutip Korea JoongAng Daily.
Fenomena ini bahkan mendorong sejumlah pengguna iPhone untuk berpindah ke Galaxy Z Fold 8. Di media sosial Korea Selatan, unggahan tentang perpindahan tersebut ramai dikomentari. Ada yang menyebut iPhone kini terasa seperti "HP bapak-bapak," tak sedikit pula pengguna setia Apple selama 10 tahun yang mengucapkan selamat tinggal karena beralih ke Galaxy Z Fold 8.
Daya tarik Galaxy Z Fold 8 juga mulai terasa di Jepang, negara yang selama ini dikenal sebagai salah satu pasar terkuat Apple. Di Negeri Sakura, iPhone menguasai lebih dari separuh penggunaan smartphone.
Setelah diluncurkan pada 7 Agustus 2026, sejumlah varian Galaxy Z Fold 8 sempat kehabisan stok. Reservasi untuk mencoba perangkat tersebut di toko flagship Samsung di Harajuku, Tokyo, juga penuh.
"Galaxy masih menjadi pemain kecil di Jepang, tetapi semakin banyak orang melihat Samsung memiliki keunggulan dibandingkan Apple dalam hal ponsel lipat," ujar Leo Yasumura, seorang insinyur teknologi informasi sebagaimana dikutip Korea JoongAng Daily.
Kesan Pertama Lebih Penting dari Spesifikasi
Ketertarikan konsumen terhadap sebuah produk sering kali dimulai dari kesan pertama. Setelah merasa tertarik, konsumen baru mencari alasan untuk memperkuat ketertarikan tersebut. Hal serupa tampaknya juga berlaku pada smartphone.
Ketika remaja hingga perempuan berusia 30-an di Samsung Store Hongdae ditanya mengenai kesan pertama mereka terhadap Galaxy Z Fold 8, sebagian besar mengaku HP ini "imut", "tipis", "cantik", dan "menarik". Spesifikasi dan performa perangkat justru menjadi pertimbangan berikutnya.
Desain baru Galaxy Z Fold 8 juga membuatnya lebih mudah menarik perhatian. Dengan bobot 201 gram, ponsel ini menjadi yang paling ringan di antara ponsel lipat buatan Samsung. Desainnya yang baru juga membuatnya terasa paling beda di tongkrongan.
Menurut Kim Dae-jong, profesor administrasi bisnis di Sejong University, Samsung akhirnya berhasil menemukan formula untuk membuat produknya terasa diinginkan konsumen.
"Memunculkan perasaan 'Saya ingin memilikinya' merupakan titik awal penjualan. Ini adalah area yang selama ini menjadi tantangan bagi Samsung Electronics," kata Kim.
Kendati begitu, sensasi memiliki perangkat yang dianggap kekinian bisa saja cepat berlalu. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana Galaxy Z Fold 8 tidak sekadar menarik perhatian saat pertama kali dilihat, tetapi juga mampu menjadi bagian dari keseharian pengguna dan meningkatkan pengalaman mereka.
Karena itu, Lee Il-hwan, Executive Vice President sekaligus Head of Design Team Samsung Electronics Mobile eXperience Business, menekankan pentingnya merancang bukan hanya produk secara fisik, tetapi juga setiap momen yang dialami pengguna.
Desain Galaxy Z Fold 8 sendiri terinspirasi dari sebuah paspor. Samsung ingin menciptakan perangkat yang dapat digenggam dengan nyaman menggunakan satu tangan seperti paspor, tetapi mampu menawarkan layar berukuran besar ketika dibuka.
Di generasi ponsel lipat sebelumnya, konsumen kerap mempertanyakan apakah smartphone memang perlu dilipat. Galaxy Z Fold 8 dinilai mulai menjawab pertanyaan tersebut dengan memberikan fungsi dan nilai yang berbeda ketika perangkat digunakan dalam kondisi terlipat maupun terbuka.
"Galaxy Z Fold 8 merupakan form factor yang memaksimalkan pengalaman menikmati konten seperti YouTube, webtoon, e-book, dan berbagai media lainnya, sejalan dengan perubahan gaya hidup global," kata Kim Duk-jin, Head of IT Communication Research Institute.
Perjalanan 13 Tahun hingga Jadi HP Paspor
Konsep tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang baru bagi Samsung. Desain Galaxy Z Fold 8 merupakan hasil pengembangan yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.
Pada ajang CES (Consumer Electronics Show) 2013 di Amerika Serikat, Samsung Electronics pernah mempresentasikan konsep smartphone dengan rasio layar 4:3 yang dapat dilipat dan dibuka seperti dompet atau paspor. Namun, keterbatasan teknologi saat itu membuat perangkat dengan desain tersebut terlalu tebal dan berat. 13 tahun kemudian, perkembangan teknologi akhirnya memungkinkan konsep HP paspor tersebut diwujudkan.
Samsung Electronics dan Samsung Display menggunakan lapisan berbahan paduan titanium yang diklaim sekitar 20 kali lebih kuat dibandingkan material sebelumnya pada Galaxy Z Fold 8. Penggunaan material tersebut membantu mengurangi ketebalan layar hingga 12 persen.
Keduanya juga mengembangkan pelat titanium yang diperkuat dengan lubang-lubang mikro berukuran lebih kecil. Struktur tersebut memberikan dukungan yang lebih rapat di area lipatan layar. Perubahan ini turut mengurangi tampilan garis lipatan atau crease yang selama ini menjadi salah satu kelemahan utama smartphone lipat.
Faktanya, Samsung tidak sendirian dalam persaingan ponsel lipat bergaya paspor. Apple dikabarkan tengah menyiapkan smartphone lipat dengan rasio 4:3 yang disebut iPhone Ultra dan direncanakan meluncur pada September 2026 mendatang.
Kehadiran Apple diperkirakan membuat persaingan form factor semakin sengit, terutama setelah Samsung lebih dahulu memperkenalkan konsep smartphone lipat bergaya paspor tersebut. "Kami menyambutnya karena semakin banyak perusahaan yang masuk ke pasar yang sudah matang," kata TM Roh, Head of Device eXperience Samsung Electronics.
Menurut para pengamat, inovasi form factor biasanya dapat membentuk arah pasar dalam jangka panjang setelah berhasil diterima konsumen. Karena itu, persaingan sesungguhnya baru akan dimulai ketika daya tarik awal perangkat mulai berkurang.
Bagi Samsung, tantangan berikutnya adalah mengubah rasa penasaran saat pertama melihat Galaxy Z Fold 8 menjadi kepuasan yang bertahan dalam penggunaan sehari-hari.
"Produk baru ini telah mencapai sesuatu dengan menawarkan desain sekaligus performa," kata Lee Seong-yeob, profesor di Korea University Graduate School of Management of Technology. "Namun, Samsung harus mempertahankan daya saing harga dan memperkuat ekosistem AI jika ingin mempertahankan posisi teratas di pasar ponsel lipat."
Artikel Terkait
Latihan Militer AS-Korsel Dipangkas atas Perintah Trump
Trump Perintahkan Pentagon Kurangi Latihan Militer Gabungan dengan Korsel
Korea Selatan Bentuk Komite Khusus untuk Perbaiki Regulasi Startup
UMR Korea Selatan 2026 Tembus Rp24,9 Juta, Indonesia Masih Rp5,7 Juta