Ancaman di Balik Kebangkitan Marc Marquez: Pedro Acosta dan Akhir Era Ducati

- Minggu, 16 Agustus 2026 | 06:25 WIB
Ancaman di Balik Kebangkitan Marc Marquez: Pedro Acosta dan Akhir Era Ducati

Marc Marquez menghadapi tekanan baru di MotoGP. Kehadiran Pedro Acosta sebagai calon rekan setim di Ducati pada musim depan dinilai bisa menjadi ujian terbesar bagi juara dunia sembilan kali itu, di tengah tanda-tanda mulai meredupnya dominasi pabrikan Italia.

Musim ini menjadi periode penuh gejolak bagi Marquez. Setelah mengalami cedera dan sempat dihantui kekhawatiran akan pensiun, ia bangkit dengan impresif, meraih tiga kemenangan dalam empat balapan terakhir. Namun, performa Ducati di Silverstone pada balapan terakhir memunculkan kekhawatiran baru: empat motor Aprilia tampil jauh lebih unggul dibandingkan motor Ducati yang dikendarai pembalap asal Spanyol tersebut.

Ducati telah mendominasi MotoGP dengan merebut gelar pembalap dan konstruktor dalam empat musim beruntun. Hasil di Silverstone kemudian memicu spekulasi bahwa era kejayaan Ducati mulai mendekati akhir.

Pergeseran Kekuatan

Jurnalis MotoGP ternama, Ricard Jove, menilai sedang terjadi perubahan peta kekuatan. Ia menyoroti keberhasilan seluruh pembalap Aprilia menempati posisi terdepan di Silverstone.

“Kita harus menilai sejauh mana era Ducati telah berakhir dan sebuah era baru telah dimulai, yang sangat mungkin terjadi,” ujar Jove kepada MotoSan. “Itu mungkin, karena jika ada empat motor dan keempatnya berada di depan, tentu ada sesuatu yang sedang terjadi.”

Jove mengingatkan bahwa perubahan siklus kekuatan adalah hal yang lazim di MotoGP. Honda dan Yamaha pun pernah mengalami berakhirnya masa dominasi. “Mungkin waktunya Ducati telah berakhir, seperti yang pernah dialami Honda dan Yamaha. Kita telah melihat pergantian siklus yang tak terhitung jumlahnya,” katanya.

“Selain itu, pembalap yang secara konsisten memberikan hasil untuk Ducati tidak tampil bagus di sirkuit ini. Jadi, sepertinya kita sedang menyaksikan pergantian kekuasaan yang harus benar-benar terlihat dalam sepuluh balapan berikutnya,” ujarnya.

Ujian Bernama Pedro Acosta

Sorotan kemudian mengarah kepada Marquez. Legenda asal Spanyol itu merebut gelar dunia kesembilan pada musim lalu dengan mendominasi Francesco Bagnaia dengan selisih besar. Namun, Bagnaia akan meninggalkan Ducati pada musim dingin, dan posisinya akan digantikan oleh Pedro Acosta, pembalap Spanyol yang berusia 11 tahun lebih muda dari Marquez dan telah menebar ancaman kepada para rival.

Kehadiran Acosta berpotensi menjadi tantangan serius bagi Marquez. Persaingan tersebut juga dapat memunculkan pertanyaan mengenai keputusan sang juara dunia bertahan di MotoGP hingga akhir 2028.

Jove tidak ingin menentukan waktu yang tepat bagi Marquez untuk pensiun. Keputusan tersebut sepenuhnya berada di tangan sang pembalap. “Saya selalu berpendapat saya tidak akan pernah berbicara, atau akan berusaha tidak berbicara, mengenai kapan Marc harus atau tidak harus pensiun karena, terus terang, itu keputusannya, bukan keputusan saya,” ujarnya.

Meski demikian, Jove menilai Marquez akan mempertaruhkan banyak hal pada musim depan. Tekanan bisa semakin berat apabila rekan setim barunya mampu mengalahkan dia sepanjang musim. “Namun, memang benar Marc juga mempertaruhkan banyak hal tahun depan. Sebab, pensiun ketika dia memutuskan dan menginginkannya merupakan satu hal, tetapi memiliki perasaan rekan setim mengalahkan Anda dengan telak sepanjang musim dan mungkin memaksa Anda pensiun merupakan hal lain,” ucapnya.

Jove tetap menilai terlalu dini untuk memberikan penilaian akhir terhadap Marquez maupun Ducati. Sepuluh balapan masih tersisa dengan karakter sirkuit dan kebutuhan motor yang berbeda. “Tidak perlu ada kekhawatiran seperti itu. Kita tidak boleh terlalu berorientasi pada hasil. Jorge Martin belum habis di Sachsenring dan Marc juga belum habis sekarang,” katanya.

“Masih ada sepuluh balapan. Ada berbagai jenis sirkuit, sebagian cocok untuk gaya berkendara tertentu dan sebagian lainnya sesuai dengan motor tertentu. Akan ada sedikit dari semuanya,” ujarnya.

Para pembalap sebelumnya menjalani jeda hampir satu bulan untuk berada di rumah, bersantai, dan menikmati waktu di pantai. Jove menilai tekanan sesungguhnya akan terlihat ketika rangkaian balapan padat dimulai. “Kita baru saja melewati hampir satu bulan ketika semua orang berada di rumah, di pantai, dan bersantai. Tunggu sampai kita memasuki dua atau tiga balapan beruntun, ketika Anda menghadapi orang yang sama setiap hari, hotel, mobil, lintasan. Jika ada gesekan, dampaknya akan berlipat ganda,” ucapnya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags