Kampanye besar-besaran Israel untuk mempertahankan dukungan di kalangan konservatif muda Amerika Serikat dilaporkan gagal mencapai tujuannya. Meskipun menggelontorkan dana hingga US$ 1,5 juta per bulan, dukungan publik AS terhadap Israel justru terus merosot.
Laporan investigasi majalah TIME mengungkapkan bahwa kampanye tersebut secara terbuka dibungkus sebagai upaya memerangi antisemitisme. Namun, tujuan strategisnya yang lebih luas adalah mencegah kelompok sayap kanan AS yang semakin kritis terhadap Israel dan keterlibatan Washington dalam perang regional yang melibatkan Israel.
Dana jutaan dolar itu digunakan untuk menargetkan basis MAGA (Make America Great Again), membentuk narasi di media sosial, dan memengaruhi platform kecerdasan buatan. Meski demikian, hasil jajak pendapat menunjukkan tren sebaliknya.
Dokumen resmi yang diajukan berdasarkan Undang-undang Pendaftaran Agen Asing mengungkapkan bahwa agensi iklan global Havas menyewa perusahaan milik Brad Parscale, mantan manajer kampanye Presiden Donald Trump, pada September 2025. Perusahaan tersebut ditugaskan menjalankan kampanye digital atas nama Israel.
Kesepakatan itu mewajibkan produksi 100 konten orisinal setiap bulan, dengan setidaknya 80 persen menargetkan audiens Generasi Z melalui TikTok, Instagram, YouTube, dan podcast. Kampanye ini menjanjikan setidaknya 50 juta digital impressions per bulan, termasuk upaya memengaruhi perangkat AI seperti ChatGPT, Claude, dan Gemini agar menyajikan informasi yang pro-Israel.
Pada April lalu, terungkap bahwa Israel telah membayar US$ 9 juta kepada Parscale dan memperbarui kontraknya. Kontrak itu mencakup iklan digital, jangkauan melalui pesan teks, dan upaya memastikan materi pro-Israel muncul di posisi teratas pada sumber-sumber online yang digunakan sistem AI.
Artikel Terkait
Serangan Udara Israel di Gaza Tewaskan Delapan Warga Sipil
Wapres AS JD Vance Tuding Ada Pihak di Israel Manipulasi Opini Publik AS Gagalkan Kesepakatan dengan Iran
Iran Siapkan Serangan Kejutan untuk AS, Trump Akan Hadapi Hal Tak Terduga
Vance Tuding Pejabat Israel Danai Kampanye Rahasia untuk Perpanjang Perang dengan Iran