Proses pemulangan Ai Juariah (43), tenaga kerja wanita asal Cianjur yang sempat terekam dalam kondisi bersimbah darah di Libya, terkendala masalah diplomatik. Perbedaan pengakuan antara pemerintah Libya Barat dan Libya Timur membuat upaya pemulangannya tidak sederhana.
Ai, warga Kampung Babakan Turuy, Desa Karangwangi, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, saat ini berada dalam pemantauan dan perlindungan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tripoli, yang berada di Libya Barat.
"Saat ini, Ai Juariah kondisinya baik dan sudah berada di KBRI. Pemerintah masih mengupayakan proses pemulangannya. Karena, saat ini pemerintahan Libya terbagi dua, yakni pemerintahan yang berpusat di Tripoli yang menguasai Libya Barat, dan Libya Timur, yang pemerintahannya tidak diakui. Intinya ada dualisme pemerintahan di Libya," kata Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Cianjur, Denny Widya Lesmana.
Denny menjelaskan bahwa Ai bekerja sebagai asisten rumah tangga di Benghazi, Libya Timur. "Hal ini yang diprediksi akan cukup menghambat proses pemulangannya," ujarnya.
Sebelumnya, Ai dipastikan berangkat ke Libya secara nonprosedural. Denny mengungkapkan pihaknya telah berkirim surat ke Kementerian Luar Negeri RI untuk meminta bantuan dalam proses pemulangan. "Kita telah bersurat ke Kemlu RI agar dibantu dalam proses pemulangan Ai Juariah. TKW tersebut dipastikan berangkat ke Libya secara non prosedural," kata Denny.
Artikel Terkait
Pekerja Migran Asal Jabar Terlantar di Libya, Pemerintah Koordinasi Pemulangan
Kronologi TKW Ai Juariah di Libya: Pemerintah Pastikan Proses Pemulangan
Program Makan Bergizi Gratis Dinilai Dorong Ekonomi Lokal dan Serap Hasil Petani
PMI Asal Cianjur Diduga Dianiaya Majikan di Libya, Kemlu Turun Tangan