Sebanyak 66.831 investor PT Black Diamond Resources Tbk (COAL) kini berada dalam ketidakpastian setelah emiten batu bara itu mencatatkan pendapatan nol pada kuartal I-2026 dan harga sahamnya jatuh ke level Rp22 per unit sebelum disuspensi bursa. Saham yang sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa di Rp635 pada September 2022 itu kini terpuruk, meninggalkan para pemegang saham yang jumlahnya terus menyusut dari 72.803 investor pada akhir April 2026.
Tekanan terhadap saham COAL datang bersamaan dengan memburuknya kinerja fundamental perusahaan. Dalam laporan keuangan kuartal I-2026, perseroan tidak mencatat pendapatan usaha sama sekali, berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun sebelumnya ketika masih membukukan penjualan Rp126,52 miliar. Hilangnya pendapatan membuat COAL tidak lagi mencatat laba bruto yang sebelumnya mencapai Rp19,74 miliar, dan berbalik membukukan rugi bersih Rp8,29 miliar dari sebelumnya laba bersih Rp5,39 miliar.
Masalah likuiditas juga mengemuka. Arus kas operasi COAL tercatat negatif Rp13,79 miliar sepanjang kuartal I-2026, sementara kas dan setara kas perusahaan menyusut drastis menjadi hanya Rp233 juta dari Rp14,29 miliar pada akhir 2025. Di sisi lain, perseroan masih memiliki utang bank jangka pendek sebesar Rp195 miliar, membuat kemampuan menjaga operasional dan memenuhi kewajiban keuangan menjadi sorotan investor.
Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelumnya telah memberikan notasi khusus S dan X pada saham COAL. Notasi S diberikan karena laporan keuangan terakhir menunjukkan perusahaan tidak memiliki pendapatan usaha, sedangkan notasi X menandakan saham tersebut tercatat di Papan Pemantauan Khusus.
COAL merupakan perusahaan induk yang menaungi perusahaan pemegang izin usaha pertambangan (IUP) produksi batu bara. Aktivitas penambangan sebelumnya dilakukan di Gunung Mas, Kalimantan Tengah, dan perusahaan mulai beroperasi komersial sejak 2020 dengan kantor pusat di Jakarta Selatan.
Di balik gejolak sahamnya, perusahaan sebelumnya dikendalikan oleh Sujaka Lays sebagai pemegang saham pengendali sekaligus beneficial owner (UBO) berdasarkan laporan keuangan kuartal I-2026. Namun, data bursa terbaru per akhir Mei 2026 menunjukkan COAL tidak memiliki UBO. Sujaka menguasai 8,68 persen saham, sementara masyarakat non-warkat memiliki 79,32 persen.
Artikel Terkait
IHSG Berbalik Arah Menguat Usai Dibuka Melemah
IHSG Anjlok 2,42% pada Sesi I, Tertekan Aksi Jual di Banyak Sektor
IHSG Dibuka Melemah ke 5.801, Mayoritas Sektor Tertekan
IHSG Diprediksi Masih Rawan Koreksi Pekan Depan, Simak Rekomendasi Saham