Timnas Prancis kembali menunjukkan tajinya sebagai calon kuat juara Piala Dunia 2026. Menghadapi Swedia di babak 32 besar, Rabu (1/7), Les Bleus menang telak 3-0. Kemenangan ini memperpanjang rekor sempurna mereka sejak fase grup.
Tak hanya lini depan yang tajam, skuad asuhan Didier Deschamps juga tampil kompak dan matang secara mental. Performa impresif Kylian Mbappe dan kolega membuktikan bahwa Prancis tidak sekadar mengandalkan bakat individu, melainkan kekuatan kolektif sebagai tim.
Solidaritas Tim Jadi Kekuatan Utama
Laga di New Jersey menyajikan momen emosional yang merekatkan skuad Prancis. Usai Mbappe membuka keunggulan, seluruh pemain berlari ke pinggir lapangan memeluk Deschamps, yang baru kembali mendampingi tim setelah menghadiri pemakaman ibundanya.
Bagi Deschamps, momen itu menjadi cerminan karakter tim yang dibangunnya bertahun-tahun. "Kelompok ini bersatu dan mereka memberikan segalanya saat saya tidak ada. Semangat tim mungkin tidak langsung memenangkan pertandingan, tetapi jika itu tidak ada, Anda bisa kalah. Kekuatan kolektif adalah segalanya," ujarnya.
Gelandang Aurelien Tchouameni juga mengungkapkan motivasi tambahan untuk sang pelatih. "Kami tahu pelatih sedang melalui masa yang sulit. Kami hanya ingin memberikan segalanya agar bisa membuatnya bahagia."
Lini Serang Prancis Sulit Dibendung
Kemenangan atas Swedia kembali menegaskan ketajaman lini depan Les Bleus. Prancis menjadi tim pertama yang mencetak tiga gol atau lebih dalam lima pertandingan Piala Dunia beruntun.
Mbappe terus menjadi motor serangan dengan koleksi enam gol, sementara Michael Olise tampil sebagai kreator utama lewat lima assist. Kombinasi keduanya membuat pertahanan lawan kesulitan mengantisipasi variasi serangan Prancis.
Pujian dari Pengamat dan Lawan
Penampilan dominan Prancis menuai pujian. Mantan bek Timnas Inggris, Gary Neville, menilai kualitas lini depan Les Bleus berada di level berbeda. "Apa yang kita lihat dari Prancis adalah presisi dan daya rusak yang luar biasa. Empat pemain depan mereka bisa menjadi mimpi buruk bagi siapa pun. Sejujurnya, saya tidak tahu cara menghentikan mereka. Mereka berada di level yang lebih tinggi," ucap Neville.
Pengakuan serupa datang dari pelatih Swedia, Graham Potter. "Saya belum pernah melihat tim yang lebih baik."
Artikel Terkait
Kartu Merah Piero Hincapie Akibat Aturan Baru FIFA, Ekuador Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Inggris Siapkan Strategi Khusus Hadapi Pertahanan Rapat Kongo di Piala Dunia
Mbappe dan Messi Berebut Puncak Top Skor Piala Dunia 2026
Michael Olise Mengintip Rekor Assist Piala Dunia Usai Bawa Prancis ke 16 Besar