Harga Minyak Catat Penurunan Bulanan dan Kuartalan Terbesar Sejak Pandemi

- Rabu, 01 Juli 2026 | 07:30 WIB
Harga Minyak Catat Penurunan Bulanan dan Kuartalan Terbesar Sejak Pandemi

Harga minyak bergerak relatif stabil pada Selasa (30/6/2026), namun mencatat penurunan bulanan dan kuartalan terbesar sejak awal pandemi Covid-19 pada 2020. Investor kini mencermati kemungkinan perundingan Amerika Serikat (AS) dan Iran di Doha di tengah gencatan senjata sementara yang rapuh dalam perang yang telah berlangsung selama empat bulan.

Minyak mentah Brent turun 0,3 persen menjadi USD72,92 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 1,8 persen menjadi USD69,50 per barel. Kontrak berjangka Brent untuk pengiriman Agustus berakhir pada Selasa dan akan digantikan oleh kontrak September yang diperdagangkan di kisaran USD73,31 per barel.

Kedua harga acuan tersebut kini berada tidak jauh dari level perdagangan pada 27 Februari, sehari sebelum perang AS-Israel terhadap Iran dimulai. Saat itu, Brent ditutup di USD72,48 per barel, sedangkan WTI berakhir di USD67,02 per barel.

“Saya tidak akan mengatakan pasar telah menghapus premi risiko, tetapi sebelumnya kapal-kapal yang terjebak kini kembali tersedia seiring meningkatnya jumlah kapal yang keluar dari Teluk. Hal ini menciptakan gelombang pasokan baru untuk sementara waktu,” kata Analis UBS Giovanni Staunovo.

Morgan Stanley memperkirakan pasar minyak global berpotensi mengalami surplus sebesar 4,8 juta barel per hari pada 2027.

Utusan utama AS yang tiba di Doha tidak akan menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan Iran, menurut seorang pejabat Qatar pada Selasa. Kondisi tersebut menimbulkan keraguan terhadap kemajuan upaya untuk mencapai penghentian perang Iran secara permanen serta membuka kembali Selat Hormuz sepenuhnya. Sebelum perang berlangsung, sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati jalur strategis tersebut.

Sebagai gantinya, pembicaraan teknis akan digelar pekan ini dengan membahas sejumlah isu, termasuk keamanan regional, yang nantinya dapat ditingkatkan ke tingkat perundingan lebih tinggi, kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed Al Ansari dalam konferensi pers.

Kedatangan menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner, serta utusan AS Steve Witkoff ke Doha pada Selasa terjadi setelah aksi saling serang pada akhir pekan yang menguji kesepakatan sementara antara AS dan Iran pada 17 Juni. Kesepakatan tersebut memberikan waktu 60 hari bagi kedua pihak untuk merundingkan gencatan senjata permanen dan menyelesaikan sejumlah persoalan sulit, termasuk masa depan konflik tersebut.

Penurunan Terbesar Sejak Pandemi

Pergerakan harga yang minim pada Selasa membuat kedua harga acuan minyak tetap berada dalam kondisi jenuh jual secara teknikal. Brent telah berada dalam kondisi tersebut selama 13 hari berturut-turut, sedangkan WTI selama 11 hari.

Sepanjang Juni, harga Brent turun sekitar 21 persen setelah sebelumnya melemah hampir 19 persen pada Mei. Penurunan tersebut menjadi yang terbesar sejak Maret 2020, ketika harga minyak jatuh rekor 55 persen akibat kehancuran permintaan selama pandemi Covid-19.

Pada kuartal II, Brent tercatat turun sekitar 38 persen setelah melonjak 94 persen pada kuartal I. Penurunan kuartalan tersebut menjadi yang terbesar sejak kuartal I 2020, ketika harga Brent jatuh hingga 66 persen. Kenaikan 94 persen pada kuartal sebelumnya juga menjadi lonjakan kuartalan terbesar sejak harga minyak berjangka melonjak rekor 142 persen pada kuartal III 1990.

Pasokan dari lima jenis minyak mentah Laut Utara yang menjadi dasar perhitungan harga acuan Brent bertanggal untuk Agustus tidak akan mencakup minyak Brent untuk pertama kalinya setidaknya sejak 2021.

Di AS, produksi minyak mentah meningkat ke rekor bulanan 13,93 juta barel per hari pada April. Data bulanan dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan produsen meningkatkan produksi setelah harga minyak naik akibat perang Iran.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags