Usai Tiket Mahal, Penonton Piala Dunia 2026 Keluhkan Budaya Tip di AS

- Rabu, 01 Juli 2026 | 08:15 WIB
Usai Tiket Mahal, Penonton Piala Dunia 2026 Keluhkan Budaya Tip di AS

Penonton Piala Dunia 2026 kembali dibuat pusing. Setelah mengeluhkan harga tiket yang melambung tinggi, kini mereka harus merogoh kocek lebih dalam untuk memberikan tip di Amerika Serikat.

Seperti diketahui, FIFA mematok harga tiket hingga Rp70 juta untuk kategori 1 barisan depan pada laga pembuka Amerika Serikat melawan Paraguay. Angka ini melonjak jauh dari turnamen sebelumnya yang hanya sekitar Rp46,7 juta. Tak hanya itu, FIFA juga membuat kategori baru Tier 2 tanpa pengumuman resmi, dengan harga Rp33 juta hingga Rp39,7 juta per orang. Kenaikan harga juga terjadi di laga pembuka Kanada melawan Bosnia, di mana kursi depan dibanderol Rp57,3 juta.

Meski menuai protes, FIFA tetap optimis dengan strategi memaksimalkan pendapatan dari pertandingan besar. Namun, masalah belum berhenti di situ. Para penonton dari berbagai negara kini mengeluhkan budaya tip yang sudah mengakar di AS.

Budaya Tip Membebani Penonton

Dikutip dari Kompas.com, para suporter asing merasa terbebani dengan kewajiban memberi tip, bahkan untuk pembelian sederhana seperti satu botol minuman. Di AS, karyawan restoran rata-rata menerima tip di atas dua dolar AS (sekitar Rp35.700) per jam, dan berharap tip sekitar 20 persen dari total tagihan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Geoff Pryor, pendukung tim Inggris, mengeluhkan bahwa beberapa karyawan meminta tip meskipun tidak melakukan banyak hal. "Mereka mencoba meminta tip tanpa melakukan apa-apa," ujarnya. Meski demikian, ia menyadari pentingnya tip karena gaji di AS tidak sebesar di Inggris. "Saya mengerti bahwa gaji mereka mungkin tidak sebesar di Inggris, tapi secara keseluruhan pelayanannya cukup baik, jadi kalau pelayanannya bagus, mereka pantas mendapat tip yang layak," sambungnya.

Sementara itu, dua pendukung Australia, Chris O'Flynn dan Robert McNamara, mengaku pengeluaran mereka membengkak akibat tip. Padahal, mereka sudah membayar mahal untuk tiket. Menurut McNamara, seharusnya perusahaan yang bertanggung jawab memberikan gaji layak, bukan pelanggan. "Kamu membeli minuman dan harus menambahkan lima dolar. Sulit dipercaya," ujarnya.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags