Amerika Serikat dan Iran kembali ke meja perundingan setelah kesalahpahaman atas nota kesepahaman damai memicu bentrokan baru di Selat Hormuz. Kedua negara sepakat menghentikan seluruh aksi militer dan akan bertemu di Doha, Qatar, pada Selasa (30/6/2026) untuk menyelesaikan sengketa implementasi kesepakatan.
Konflik terbaru berakar dari perbedaan interpretasi terhadap salah satu poin dalam MoU Islamabad yang ditandatangani Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada 17 Juni lalu. Dokumen tersebut sebelumnya menandai berakhirnya perang yang berlangsung sejak 28 Februari, termasuk melibatkan Israel.
Berdasarkan isi MoU, Iran berjanji melakukan upaya terbaik untuk menjamin jalur aman bagi kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Sebagai imbalannya, AS sepakat mencabut blokade maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Namun, perbedaan penafsiran muncul pada klausul mengenai pengaturan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
"Kami memutuskan untuk menghentikan semua aktivitas kinetik," kata seorang pejabat senior AS kepada Axios, menggunakan istilah militer untuk menggambarkan penghentian seluruh operasi serangan.
Agenda utama pembahasan di Doha bukan lagi program nuklir Iran, melainkan penyelesaian sengketa terkait implementasi kesepakatan di Selat Hormuz.
Artikel Terkait
Iran Klaim Serang Delapan Lokasi Militer AS di Kuwait dan Bahrain
Drone Serat Optik Hizbullah Kibarkan Alarm di Israel: Militer Berburu Penangkal
Iran Serukan Kerangka Keamanan Baru dengan Negara Teluk, Klaim Kuasai Selat Hormuz
Gempa Kembar Guncang Venezuela, 920 Tewas dan Puluhan Ribu Hilang