Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian khusus terhadap kasus meninggalnya lima peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) saat menjalani latihan dasar militer. Para peserta yang tengah dipersiapkan menjadi calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih itu meninggal karena masalah kesehatan selama latihan.
Perhatian Prabowo disampaikan oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi. "(Presiden) Monitor semua dong," ujar Pras di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (26/6). Pras menambahkan, pemerintah akan mengevaluasi penyelenggaraan pelatihan jika ditemukan prosedur yang perlu diperbaiki. "Kalau evaluasi jelas dong. Kan semua proses kan kita lakukan kalau ada misalnya salah prosedur, oh itu kita perbaiki. Dan kalau salah prosedur itu ada yang mengarah kepada hal-hal kelalaian, ya itu juga bagian dari evaluasi," kata Pras.
Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurrachman juga menyampaikan hal serupa. "Memang saya mendengar berita itu dari tiga tempat, ada pelatihan militer yang memang sedang dievaluasi. Dan mendapat informasi dari Setneg belum ada tingkat kelalaiannya ya. Karena memang ya namanya meninggal mungkin kan tidak serta-merta latihan militer," kata Dudung dalam konferensi pers di Kantor Staf Kepresidenan, Jakarta, Jumat (26/6).
Latsarmil SPPI Dihentikan
Evaluasi benar-benar dilakukan. Kementerian Pertahanan menghentikan format lama latihan dasar SPPI Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih/Kampung Nelayan Merah Putih. Kepala Biro Informasi Setjen Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, mengatakan kegiatan tersebut akan diarahkan menjadi latihan pembekalan bela negara dan manajerial. "Yang dapat kami sampaikan, format kegiatan yang sebelumnya dikenal sebagai Latsarmil SPPI telah dievaluasi dan tidak lagi dilaksanakan dalam bentuk sebelumnya. Saat ini kegiatan diarahkan menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial," kata Rico saat dikonfirmasi, Selasa (30/6).
Rico menjelaskan, penyesuaian format ini dilakukan agar kegiatan lebih proporsional dengan latar belakang peserta sebagai warga sipil. Materi teknis dan taktis militer sudah dihilangkan, termasuk kegiatan menembak. "Saat ini juga tidak ada lagi latihan fisik. Yang ada hanya olahraga ringan untuk kebugaran, seperti senam pagi dan jalan kaki ringan. Kegiatan tersebut juga tidak bersifat wajib dan tetap menyesuaikan dengan kondisi masing-masing peserta," jelasnya.
Fokus kegiatan saat ini diarahkan pada pembentukan karakter, disiplin, wawasan kebangsaan, kepemimpinan, kerja sama, serta pembekalan manajerial yang relevan dengan tugas peserta sebagai calon pengelola koperasi. Prinsipnya, keselamatan dan kesehatan peserta menjadi prioritas utama. Kemhan RI juga telah menyampaikan duka cita dan memberikan santunan kepada keluarga lima peserta yang meninggal.
Puan Dukung Perubahan Format
Ketua DPR Puan Maharani mendukung perubahan format tersebut. DPR, kata Puan, menghargai langkah evaluasi yang telah dilakukan pemerintah. Ia berharap evaluasi tersebut benar-benar menyentuh seluruh aspek pelaksanaan program. "Bahwa sudah dilakukan evaluasi, ya kami berharap bahwa itu evaluasi yang bisa dilaksanakan secara menyeluruh. Dan memang rangkaian hal yang dilakukan itu sebaiknya memang lebih baik fokus pada manajerial saja untuk bisa kelak nanti melakukan pelaksanaan yang sesuai diharapkan," ujarnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (30/6).
Menurut Puan, DPR juga akan mencermati hasil evaluasi yang dilakukan pemerintah. "Jadi evaluasinya menyeluruh dan kita lihat evaluasi-evaluasi apa saja yang sudah akan dilakukan, nanti akan kami tindak lanjuti," ucapnya.
Artikel Terkait
Rocky Gerung dan Budiman Sudjatmiko Beri Dukungan Penuh pada Program Pemerintahan Prabowo
Prabowo Pimpin Upacara Hari Bhayangkara ke-80 di Cikeas, Gibran Turut Hadir
Survei: Penilaian Anak Muda terhadap Kinerja Pemerintah Anjlok ke Titik Terendah
Koalisi Ojol Apresiasi Perpres Perlindungan Pekerja Transportasi Online dan Pemangkasan Potongan Aplikator 8%