Diantaranya BBRI turun 3,82 persen di Rp 4.530, BMRI runtuh 3,3 persen di Rp 6.575, BBNI turun 2,74 persen di Rp 4.960, TLKM turun 2,1 persen di Rp 2.790, BBCA turun 3,18 persen di Rp 9.875, ASII turun 2,77 persen di Rp 4.560, ADRO turun 6,92 persen di Rp 3.090, UNTR turun 4,77 persen di Rp 24.475, serta PTBA merosot 5,88 persen di Rp 2.560.
Saham-saham yang tergabung dalam sektor energi terlihat memberikan kontribusi terbesar dalam penurunan IHSG. Hal Ini terlihat dari Indeks sektor energi yang runtuh 4,94 persen di 2.356,9.
Laporan terkait dari pembukaan sesi perdagangan di bursa utama Eropa juga memperlihatkan gerak yang sama suramnya. Seluruh Indeks di benua biru itu memerah dengan latar sentimen yang sama.
Pola berbeda terjadi di pasar uang, di mana nilai tukar Rupiah mampu konsisten menapak zona penguatan, seiring dengan pasar uang global. Namun gerak menguat Rupiah terpantau terkikis di pertengahan sesi perdagangan sore. Rupiah tercatat sempat menenggelamkan Dolar AS di kisaran Rp 16.119 namun kemudian berbalik hingga kisaran Rp 16.185. Hingga sesi perdagangan sore ini berlangsung, Rupiah tercatat ditransaksikan di kisaran Rp 16.180 per Dolar AS atau menguat 0,09 persen.
Pola gerak Rupiah yang bergolak tajam terlihat seirama dengan pasar uang global. Pantauan juga menunjukkan, mata uang Ringgit Malaysia yang kembali menjadi Jawara kali ini di Asia dengan mampu meruntuhkan Dolar AS hingga 2,2 persen.
Sumber: RMOL
Artikel Terkait
Ekonom: Belanja Lain-Lain Rp200 Triliun Jadi Bantalan Fiskal di APBN 2026
Kepala BGN Tegaskan Anggaran 2026 Rp268 Triliun, Bukan Rp335 Triliun
Instagram Uji Coba Fitur Berlangganan untuk Tonton Stories Diam-diam
Harga BBM Non-Subsidi di Jakarta Masih Stabil, Tak Ada Kenaikan