Dana Kekayaan Negara dan Bank Sentral Global Mulai Beralih ke Energi, Tekan Dolar AS

- Senin, 29 Juni 2026 | 07:55 WIB
Dana Kekayaan Negara dan Bank Sentral Global Mulai Beralih ke Energi, Tekan Dolar AS

Dana kekayaan negara (SWF) dan bank sentral yang mengelola aset senilai USD29 triliun mulai mengalihkan investasi ke sektor energi. Langkah ini memicu kekhawatiran terhadap dolar AS sebagai aset lindung nilai.

Menurut survei Invesco yang dirilis Senin (29/6/2026), sebanyak 90 SWF dan 54 bank sentral menilai ulang portofolio mereka akibat pergeseran geopolitik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Fokus utama adalah diversifikasi dan investasi yang mampu bertahan di tengah tarif perdagangan, penutupan jalur pelayaran, serta konflik di Ukraina dan Timur Tengah.

Sekitar 80 persen responden menyatakan keamanan energi dan infrastruktur transisi energi sebagai investasi paling kredibel untuk memperkuat portofolio. Infrastruktur kini mencapai 9 persen dari aset SWF pada 2026. Persaingan membangun infrastruktur AI yang boros energi turut menambah daya tarik sektor ini.

“Di dunia yang dilanda guncangan inflasi, fragmentasi geopolitik, dan pasar yang semakin terkonsentrasi, investor sedang mempertimbangkan kembali asumsi lama tentang diversifikasi dan mendesain ulang portofolio untuk menghadapi berbagai kemungkinan hasil,” ujar Kepala Riset Invesco Benjamin Jones. “Ketahanan menjadi persyaratan yang mutlak, bukan sekadar hal yang diinginkan,” tambahnya.

Korelasi positif antara obligasi dan ekuitas dalam beberapa tahun terakhir juga mengikis ketergantungan pada obligasi untuk diversifikasi. Alih-alih, fokus beralih ke likuiditas dan aset riil.

Kekhawatiran terhadap Dolar AS

Kekhawatiran terhadap dolar AS semakin meluas. Sebanyak 61 persen bank sentral yang disurvei menilai tingkat utang AS berdampak negatif pada posisi jangka panjang dolar sebagai aset cadangan, naik drastis dari 20 persen pada 2024.

Meski perang AS-Israel dengan Iran mendorong dolar naik 3 persen tahun ini, analis memperingatkan ketidakpastian kebijakan AS dan utang tinggi dapat melemahkan mata uang tersebut dalam jangka panjang. Kurangnya alternatif dolar yang kredibel membuat pergeseran dari dolar berlangsung bertahap. Namun, 29 persen responden survei Invesco meyakini status dolar sebagai mata uang cadangan akan melemah dalam lima tahun ke depan, naik dari 12 persen pada 2022.

Beberapa lembaga juga meninjau ketergantungan pada kustodian, pihak lawan, dan infrastruktur kliring berbasis AS akibat ketegangan geopolitik. Sebuah bank sentral Eropa dilaporkan telah mengganti kustodian AS-nya. Sementara bank sentral Amerika Latin membangun hubungan kustodian non-AS untuk mengantisipasi skenario terburuk. Namun, salah satu responden memperingatkan langkah semacam itu berisiko: “Tindakan ini sendiri dapat diinterpretasikan sebagai tindakan permusuhan oleh AS.”

Di sisi lain, sepertiga responden survei berencana meningkatkan kepemilikan emas sebagai bagian dari diversifikasi.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags