Mahasiswa Terjebak Pragmatisme, Idealisme Tergerus Imbalan Materi dari Penguasa

- Jumat, 26 Juni 2026 | 20:01 WIB
Mahasiswa Terjebak Pragmatisme, Idealisme Tergerus Imbalan Materi dari Penguasa

Gerakan mahasiswa Indonesia, yang selama puluhan tahun dikenal sebagai garda terdepan dalam melawan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan, kini tengah menghadapi krisis kepercayaan yang serius. Bukan karena tekanan dari luar, melainkan karena musuh yang bersarang di dalam: pragmatisme dan godaan materialisme. Pengakuan dari sejumlah elemen Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) mengenai adanya aliran dana dari oknum penguasa untuk mendanai aksi demonstrasi telah memicu pertanyaan besar tentang kemurnian idealisme kaum intelektual muda.

Dalam sejarah pergerakan nasional, mahasiswa bukanlah sekadar kelompok yang belajar di bangku kuliah. Mereka adalah "penjaga gawang" nurani bangsa, menjadi antitesis terhadap kekuasaan yang sewenang-wenang. Dari masa kolonial hingga peristiwa Reformasi 1998, peran mereka sebagai agen perubahan telah terukir jelas. Namun, narasi heroik itu kini mulai retak. Ironisnya, di saat seharusnya menjadi pengontrol kekuasaan, sebagian gerakan mahasiswa justru bertransformasi menjadi alat yang pragmatis.

Uang, dalam konteks ini, telah menjadi anestesi yang mematikan nalar kritis. Ketika sebuah aksi tidak lagi lahir dari keresahan kolektif masyarakat, melainkan dari "pesanan" atau kontrak kerja terselubung, maka demonstrasi di jalanan hanyalah sebuah pertunjukan sandiwara. Mahasiswa tidak lagi menjadi juru bicara rakyat, melainkan figuran dalam skenario besar untuk melanggengkan kekuasaan. Inilah bentuk kooptasi yang paling halus sekaligus paling brutal: penguasa tidak perlu menggunakan gas air mata atau represifitas militer untuk membungkam kritik. Cukup dengan kekuatan modal, "anjing penjaga" demokrasi berubah menjadi "peliharaan" yang hanya menggonggong saat diperintah dan diam saat disuap.

Simbolisme pengkhianatan ini semakin nyata ketika foto-foto beredar di publik. Mahasiswa yang sebelumnya lantang menyuarakan protes, tiba-tiba berpose akrab dengan pejabat tinggi negara setelah "misi" selesai. Foto itu bukan sekadar dokumentasi pertemuan; ia adalah simbol runtuhnya batas antara pengontrol dan yang dikontrol. Ini adalah bukti bahwa integritas telah digadaikan.

Apa implikasinya bagi masa depan bangsa? Sangat serius. Jika institusi yang seharusnya menjadi harapan terakhir untuk menjaga kewarasan bangsa telah terinfeksi virus materialisme, maka kita sedang berjalan menuju kehancuran nilai. Sebuah bangsa tanpa integritas moral adalah bangsa yang rapuh, mudah diatur, dan takluk oleh kepentingan segelintir elite. Gerakan mahasiswa yang terjebak dalam pragmatisme akan kehilangan daya tawar yang paling sakral: kemurnian. Tanpa kemurnian, mahasiswa hanyalah politisi muda yang sedang berlatih menjadi koruptor di masa depan.

Sudah saatnya gerakan mahasiswa melakukan otokritik besar-besaran. Kampus harus kembali menjadi laboratorium pemikiran kritis, bukan inkubator bagi oportunis politik. Mahasiswa perlu diingatkan kembali bahwa tugas mereka bukanlah mencari tempat di balik meja kekuasaan, melainkan menjadi penyeimbang yang berdiri tegak di atas prinsip keadilan. Jika mahasiswa terus membiarkan diri mereka disetir oleh kepentingan jangka pendek dan lembaran rupiah, maka sejarah tidak akan mencatat mereka sebagai pahlawan perubahan. Sejarah akan mencatat mereka sebagai aktor yang mempercepat senjakala moralitas bangsa.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags