Ruang konferensi pers di Miami Stadium dipadati ratusan jurnalis yang menanti kehadiran Carlo Ancelotti, Senin (22/6) malam waktu setempat. Suasana tegang bukan karena Skotlandia yang akan dihadapi Brasil, melainkan karena satu nama yang telah absen nyaris tiga tahun: Neymar. Laga penutup Grup C Rabu (24/6) ini menjadi momentum krusial bagi Selecao yang mengincar tiket babak 32 besar sekaligus memulai langkah mengakhiri paceklik gelar Piala Dunia selama 24 tahun.
Kembalinya Neymar: Antara Sejarah dan Kontroversi
Neymar Jr akhirnya siap turun kembali membela Selecao setelah absen sejak Oktober 2023. Cedera panjang dan proses pemulihan yang berlarut membuat pemilik 79 gol bersama Brasil itu harus menepi selama hampir tiga tahun penuh.
Kepulangannya bukan tanpa perdebatan. Keputusan Ancelotti memilih Neymar di atas Joao Pedro penyerang Chelsea yang tengah dalam performa gemilang memicu diskusi hangat di kalangan pengamat sepak bola Brasil. Publik terbelah antara loyalitas pada sejarah Neymar dan kebutuhan akan estafet generasi.
"Kondisinya sangat baik, dia siap.
Latihannya luar biasa pekan ini," ujar Ancelotti dalam konferensi pers yang molor hingga pukul 21.00 waktu setempat, Senin (22/6). Pelatih asal Italia itu belum memastikan apakah Neymar akan bermain penuh atau hanya paruh waktu.
Vinicius Junior: Ujung Tombak yang Tak Tergantikan
Jika Neymar membawa pengalaman, Vinicius Junior menjadi motor serangan paling diandalkan Ancelotti di turnamen ini. Dua gol dari dua laga, termasuk gol penyeimbang saat Brasil tertinggal 1-0 dari Maroko, menunjukkan ketajaman pemain berusia 25 tahun tersebut.
"Dia bermain sangat baik," ujar Ancelotti mengenai pemain yang pernah diasuhnya di Real Madrid itu. "Kami perlu memaksimalkan potensinya meski punya pemain fantastis lainnya."
Ia menambahkan bahwa Brasil memiliki kombinasi pengalaman, kualitas, dan pemain muda yang lengkap.
Vinicius menjadi tumpuan harapan publik Brasil untuk menyulut permainan ofensif yang selama ini menjadi identitas Selecao. Dua pertandingan awal menunjukkan Brasil masih mencari ritme terbaik, dan Vinicius menjadi penstabil di tengah proses adaptasi tersebut.
Ancelotti: Menuju Mahkota Terakhir Sang Legenda
Carlo Ancelotti sudah memenangkan hampir seluruh trofi yang bisa diraih seorang pelatih. Lima gelar Liga Champions, titel di lima liga top Eropa semua sudah terkumpul di lemari trofinya. Satu-satunya yang hilang adalah trofi Piala Dunia bersama tim nasional.
"Laga melawan Skotlandia akan sulit, seperti biasa," ujar Ancelotti. "Mereka punya kualitas, pemain seperti McTominay dan McGinn yang berpengalaman."
Skotlandia memang belum menunjukkan performa mengancam.
Hanya dua tembakan tepat sasaran dalam dua laga menjadi catatan minor. Namun Ancelotti tetap waspada terhadap strategi 4-4-2 dan permainan bola panjang khas Skotlandia.
Terakhir kali Brasil mengalami paceklik panjang seperti ini 24 tahun tanpa gelar mereka memecahkannya justru di Amerika Serikat pada Piala Dunia 1994. Romario dan Bebeto membawa Samba Boys juara di tanah yang sama.
Kini 32 tahun berselang, Ancelotti berada di ambang mengulang sejarah itu. Jika sukses mengatasi Skotlandia dan melaju ke babak 32 besar, langkah demi langkah menuju takhta manajer terhebat sepanjang masa resmi dimulai.
Artikel Terkait
Perwira Polisi Alami Patah Tulang Lutut saat Amankan Aksi Ricuh di Depan DPR
Kadin: Indonesia Berpotensi Jadi Pemain Utama Industri Kendaraan Berbasis Perangkat Lunak Berkat Kekayaan Mineral dan Energi Terbarukan
Enam Negara Pastikan Tiket ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026, Lima Tim Resmi Tersingkir
Mahfud MD: Rekomendasi Reformasi Polri Diabaikan, UU Polri yang Disahkan Bertentangan dengan Usulan Komisi