Jakarta Menjelang 500 Tahun: Kesenjangan Ruang dan Minimnya Partisipasi Warga Masih Jadi Pekerjaan Rumah

- Rabu, 24 Juni 2026 | 11:01 WIB
Jakarta Menjelang 500 Tahun: Kesenjangan Ruang dan Minimnya Partisipasi Warga Masih Jadi Pekerjaan Rumah

Menjelang usianya yang genap 500 tahun, Jakarta masih bergulat dengan persoalan kesenjangan ruang hidup dan minimnya partisipasi warga dalam perencanaan pembangunan kota. Isu ini mengemuka dalam diskusi publik bertajuk “Politik Warung Kopi: 499 Tahun Jakarta dan Pandangan Partai Perindo” yang digelar DPW Partai Perindo DKI Jakarta di Mampang Prapatan, Selasa (23/6/2026). Di tengah laju pertumbuhan ekonomi yang terus berdenyut, pertanyaan mendasar pun muncul: sejauh mana warga benar-benar dilibatkan dalam menentukan arah kotanya sendiri?

Ketua DPW Partai Perindo DKI Jakarta, Manik Marganamahendra, menegaskan bahwa kebijakan pembangunan Jakarta tidak bisa lagi lahir dari ruang tertutup. Menurutnya, partisipasi warga merupakan faktor krusial yang harus menjadi fondasi setiap keputusan. “Jakarta ke depan tidak cukup hanya dibangun dengan pendekatan ekonomi. Kota ini membutuhkan ruang-ruang yang adil untuk semua warganya juga ruang diskusi yang hidup, di mana warga bisa terlibat, menyampaikan gagasan, dan merasa memiliki arah pembangunan Jakarta,” ujar Manik.

Sejarawan Jakarta, JJ Rizal, yang turut hadir dalam diskusi tersebut, mengingatkan bahwa pembangunan kota tak boleh mengabaikan aspek keadilan ruang. Ia menilai berbagai persoalan perkotaan yang akut saat ini mulai dari krisis hunian hingga banjir yang tak kunjung usai berakar dari kebijakan yang belum memberikan akses setara bagi seluruh warga. “Jakarta dibangun sebagai bandar kota dagang, jangan juga kita melanjutkan pembangunan kota yang rasis di mana tidak ada keadilan ruang untuk warganya yang menyebabkan makin parahnya kondisi Jakarta hari ini. Mulai dari masalah hunian sampai banjir,” kata JJ Rizal.

Pandangan itu memperlihatkan bahwa tantangan Jakarta tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, melainkan juga tata kelola ruang yang berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat. Sejarah panjang Jakarta, menurut para pembicara, seharusnya menjadi pijakan untuk merumuskan kebijakan yang lebih adaptif terhadap perubahan sosial, ekonomi, dan demografi yang terus berlangsung.

Dalam kesempatan yang sama, DPW Partai Perindo DKI Jakarta meluncurkan program “Warkop Aspirasa”. Inisiatif ini dirancang sebagai ruang temu warga untuk berdiskusi secara terbuka dan bertukar gagasan mengenai berbagai persoalan perkotaan. Manik menjelaskan bahwa program ini bertujuan mendekatkan politik dengan kehidupan sehari-hari masyarakat sekaligus membuka ruang partisipasi yang lebih luas dalam proses pembangunan. “Dari ruang-ruang sederhana seperti warung kopi, kita ingin membangun tradisi dialog yang lebih jujur, setara, dan membumi. Di situlah ide-ide besar tentang masa depan Jakarta bisa tumbuh dan sebagaimana partai politik hadir menjadi pabrik gagasan,” katanya.

Diskusi yang diikuti masyarakat umum, pegiat komunitas, dan sejumlah pemangku kepentingan itu menjadi bagian dari upaya Partai Perindo mendorong keterlibatan publik dalam merumuskan masa depan Jakarta. Menjelang lima abad usianya, kebutuhan akan ruang dialog dan kebijakan yang lebih inklusif dinilai menjadi salah satu prasyarat agar pembangunan kota mampu menjawab tantangan yang dihadapi warganya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar