Pelatih tim nasional Inggris, Thomas Tuchel, meluapkan kekecewaannya setelah anak asuhnya hanya mampu bermain imbang tanpa gol melawan Ghana pada laga kedua Grup L Piala Dunia 2026. Ia menuding strategi bertahan total yang diterapkan lawan sebagai biang keladi mandulnya lini serang The Three Lions. Tuchel bahkan secara sinis menyebut Ghana bermain dengan sepuluh pemain bek.
Meski kesal, pelatih asal Jerman itu tetap memberikan pengakuan atas disiplin tinggi yang ditunjukkan skuad Ghana. “Pujian untuk mereka. Saya jarang melihat penampilan fisik seperti itu dari sebuah tim,” ujar Tuchel dalam wawancara dengan BBC Radio 5 Live. “Mereka bertahan dengan sepuluh pemain dalam blok yang sangat rapat. Itu menyulitkan kami karena mereka sangat disiplin dan sangat fisik di setiap posisi. Kami butuh waktu untuk menembus blok ini dan menemukan ritme.”
Tuchel menjelaskan bahwa timnya harus bermain dengan penuh kewaspadaan. “Segalanya adalah tanggung jawab kami untuk menemukan ritme. Pada saat yang sama, Anda harus berhati-hati agar tidak kebobolan serangan balik,” katanya. Ia menilai upaya timnya untuk mencetak gol sudah maksimal, meski hasil akhir belum berpihak. “Kami terus menekan, menekan, menekan. Kami memiliki peluang besar dengan Harry Kane yang tidak akan pernah ia lewatkan lagi di turnamen ini. Jadi, begitulah adanya,” ucapnya.
Pelatih berusia 51 tahun itu juga menyoroti pendekatan berbeda yang ditunjukkan Ghana. “Sulit untuk menemukan celah ketika seseorang bermain dengan formasi 4-5-1 dan bertahan sangat dalam. Mereka merayakan hasil 0-0 seperti sebuah kemenangan. Anda bisa melihat pendekatan yang berbeda, yang cukup adil dan patut dipuji. Anda tidak boleh kehilangan fokus karenanya,” lanjutnya.
Tuchel menambahkan bahwa timnya baru bisa menemukan ritme permainan di babak kedua. “Pemain pengganti membantu dan kelelahan mulai terasa. Kami menciptakan lebih banyak peluang seiring berjalannya pertandingan, tetapi kami tidak bisa mencetak gol,” tandasnya.
Di kubu lawan, pelatih Ghana Carlos Queiroz justru merasa puas. Ia menegaskan bahwa target utama timnya sudah tercapai. “Tujuan pertama tercapai, dan kami lolos ke babak kedua. Saya sangat bangga dengan cara para pemain kami berjuang selama pertandingan dan betapa mereka mendukung rencana permainan. Mereka selalu percaya,” kata Queiroz kepada BBC.
Queiroz bahkan menyematkan predikat calon juara kepada Inggris. “Pendapat saya yang sederhana adalah bahwa Inggris bisa menjadi kandidat untuk memenangkan Piala Dunia. Ini adalah hadiah untuk para penggemar kami. Ini adalah hadiah untuk beberapa pemain yang telah kami kehilangan,” ujarnya.
Mengenai gaya bermain defensif yang diterapkannya, Queiroz mengakui itu adalah pilihan yang terpaksa. “Itulah cara menang. Ketika Anda harus bertahan, Anda bertahan. Saya tidak bisa memainkan samba ketika mereka memainkan rock and roll. Tujuannya adalah untuk mengakhiri babak pertama dengan tim Inggris frustrasi dan tidak ada solusi untuk mengalahkan kami,” tegasnya.
“Saat itulah kami mulai berkembang dan mengendalikan permainan. Kami bisa mencetak gol, tetapi sayangnya, kami tidak melakukannya. Saya pikir Inggris bisa mencetak gol, jadi hasil imbang adalah hasil yang adil,” sambungnya.
Hasil imbang ini, menurut Queiroz, memiliki arti yang sangat besar bagi timnya. “Kebahagiaan. Kemenangan adalah kebahagiaan, tetapi saat ini, kemenangan bukanlah apa-apa. Kami mencapai tahap kedua, yang merupakan tujuan kami,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Kemensos dan Platform Penjaga Harapan Garap Film Pendek Sekolah Rakyat untuk Gaet Empati Publik
100 Ribu Petani dan Nelayan dari Seluruh Indonesia Padati Gorontalo Sambut Presiden Prabowo di Puncak PENAS XVII
Ronaldo Cetak Gol di Enam Edisi Piala Dunia, Ukir Tiga Rekor Sekaligus
Pertamina Berlakukan Harga Baru BBM Nonsubsidi per Hari Ini, Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter