Petani Takut Gagal Panen Akibat Isu El Nino Godzilla, Pemerintah Kesulitan Meyakinkan Mereka untuk Kembali Bertani

- Rabu, 24 Juni 2026 | 09:15 WIB
Petani Takut Gagal Panen Akibat Isu El Nino Godzilla, Pemerintah Kesulitan Meyakinkan Mereka untuk Kembali Bertani

Istilah "El Nino Godzilla" belakangan ini ramai diperbincangkan. Dramatis, memang. Namun, di balik gempita penyebutan itu, ada dampak yang tak terduga: para petani justru ketakutan dan enggan turun ke sawah.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan keresahan ini secara gamblang. Banyak petani, katanya, mulai ragu untuk menanam. Alasannya sederhana: mereka takut gagal panen karena ancaman El Nino yang dibesar-besarkan. Ironisnya, pemerintah justru kini harus bekerja ekstra meyakinkan para petani bahwa berbagai langkah antisipasi telah disiapkan sejak jauh-jauh hari. Amran pun mengimbau para pejabat dan akademisi agar lebih berhati-hati dalam menyampaikan potensi bencana iklim ini.

"Saat ditanya alasan mereka menunda tanam, jawaban mereka sederhana, takut gagal panen karena El Nino Godzilla," ujar Amran.

Imbauan itu bukan tanpa alasan. Bukan karena pemerintah ingin menutup mata terhadap ancaman cuaca ekstrem, melainkan karena cara penyampaian informasi ternyata memiliki dampak yang tak kalah besar dari ancaman itu sendiri. Fenomena ini menunjukkan bahwa komunikasi publik bukan sekadar menyampaikan data, melainkan juga membangun persepsi. Ketika ancaman lebih banyak ditonjolkan ketimbang solusi, yang muncul bukanlah kewaspadaan, melainkan ketakutan. Padahal, tujuan utama mitigasi adalah mengurangi risiko, bukan menciptakan kepanikan.

Tak ada yang salah dengan peringatan dini. Pemerintah, akademisi, dan para ahli cuaca memiliki kewajiban moral untuk menyampaikan potensi ancaman sejak awal agar ada persiapan. Namun, peringatan tersebut harus dibarengi dengan penjelasan yang proporsional mengenai kesiapan dan langkah-langkah mitigasi yang telah dilakukan. Informasi yang setengah utuh hanya akan menimbulkan kesimpulan yang keliru di tengah masyarakat.

Pemerintah pun mengklaim telah menyiapkan sejumlah antisipasi. Program pompanisasi, misalnya, digencarkan secara masif. Jumlah pompa yang sebelumnya sekitar 80 ribu unit, kini ditingkatkan menjadi sekitar 100 ribu unit. Infrastruktur irigasi terus diperbaiki untuk memastikan pasokan air tetap tersedia saat musim kering tiba. Di sisi lain, pengembangan varietas benih tahan kekeringan juga dilakukan, bersamaan dengan upaya optimalisasi lahan agar frekuensi panen meningkat.

Ini pula yang menjadi pekerjaan rumah bagi Kementerian Pertanian: bagaimana program dan kebijakan mitigasi El Nino bisa sampai dan dipahami oleh petani, jangan sampai kalah populer dibanding informasi tentang prediksi El Nino itu sendiri. Pemerintah, melalui koordinasi lintas kementerian, mestinya seirama dalam menyampaikan potensi ancaman sekaligus mitigasinya. Yang dibutuhkan adalah komunikasi yang seimbang antara kewaspadaan dan optimisme. Negara perlu jujur mengenai potensi risiko yang ada, tetapi pada saat yang sama juga harus menjelaskan kapasitas yang dimiliki untuk menghadapinya.

Prediksi mengenai El Nino yang sempat diperkirakan muncul pada April, lalu bergeser ke Mei, dan kembali berubah, menunjukkan bahwa perkembangan iklim bersifat dinamis. Dalam ilmu iklim, prediksi selalu mengandung unsur probabilitas. Ada kemungkinan terjadi, ada pula kemungkinan tidak sesuai proyeksi awal. Namun, yang pasti, program dan kebijakan mitigasi harus direncanakan dengan matang. Beragam alternatif pun harus dipersiapkan. Agar ajakan kewaspadaan tidak diterima sebagai teror, melainkan sebagai langkah antisipasi yang menenteramkan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar