FIFA Revisi Aturan Posisi Fotografer Usai Tuchel Protes Tak Bisa Lihat Pemain saat Lagu Kebangsaan

- Jumat, 19 Juni 2026 | 12:30 WIB
FIFA Revisi Aturan Posisi Fotografer Usai Tuchel Protes Tak Bisa Lihat Pemain saat Lagu Kebangsaan

FIFA akhirnya merevisi aturan mengenai posisi fotografer saat lagu kebangsaan dikumandangkan pada pertandingan Piala Dunia 2026, menyusul protes keras yang dilayangkan pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel. Keputusan ini diambil setelah pelatih asal Jerman itu mengeluh bahwa dirinya tidak bisa melihat para pemainnya saat menyanyikan "God Save The King" sebelum laga melawan Kroasia.

Dalam pertandingan yang berlangsung di Dallas, Rabu lalu, Tuchel mengaku kecewa karena pandangannya terhalang oleh kerumunan fotografer yang berdiri tepat di depannya. Ia menyebut momen menyanyikan lagu kebangsaan adalah pengalaman yang sangat emosional, terutama karena ini adalah debutnya sebagai pelatih di ajang Piala Dunia.

"Saya harus memberi tahu Anda sesuatu, saya memohon kepada FIFA untuk mengubah posisi fotografer saat lagu kebangsaan karena saya tidak dapat melihat tim saya," ujar Tuchel dalam pernyataannya.

Ia menambahkan bahwa ia telah menantikan momen spesial itu sejak lama. "Saya berdiri di depan dinding 50 fotografer, setengah meter jauhnya, dan saya tidak dapat melihat satu pun pemain. Hal itu sedikit merusak pengalaman saya," katanya.

Menurut sumber yang dihimpun dari ESPN, Jumat (19/6/2026), FIFA telah mempertimbangkan masukan tersebut. Aturan yang direvisi kini mewajibkan fotografer untuk berkerumun lebih dekat dengan pelatih, dan pelatih diberi pilihan untuk berdiri di salah satu sisi agar pandangan mereka tidak terhalang.

Sementara itu, Stadion AT&T disebut sebagai kasus khusus karena lapangan telah ditinggikan setinggi 1,2 meter untuk memenuhi persyaratan FIFA. Kondisi ini semakin membatasi ruang gerak di sekitar bangku cadangan. Kebijakan baru tersebut sudah mulai terlihat diterapkan pada pertandingan antara Republik Ceko dan Afrika Selatan yang berakhir imbang 1-1, Kamis lalu.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar