Trump Klaim Militer AS Terkuat di Dunia Usai Konflik Iran Berujung Kesepakatan Damai

- Jumat, 19 Juni 2026 | 13:55 WIB
Trump Klaim Militer AS Terkuat di Dunia Usai Konflik Iran Berujung Kesepakatan Damai

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa negaranya memiliki kekuatan militer terkuat di dunia setelah konflik dengan Iran yang berakhir melalui kesepakatan damai. Pernyataan itu disampaikan di tengah klaimnya bahwa dirinya tidak gentar menghadapi perang yang telah berlangsung selama tiga bulan terakhir.

Dalam wawancara dengan media Amerika, Axios, yang dipublikasikan pada Kamis (18/6), Trump mengungkapkan bahwa ia telah menegosiasikan nota kesepahaman atau MoU untuk mencegah perang berubah menjadi krisis ekonomi global. Saat ditanya mengenai batasan kekuasaannya sebagai presiden setelah perang Iran, ia menjawab dengan tegas.

"Tidak ada batasan. Saya belum memetik pelajaran tersebut. Saya tahu ada batasan, tetapi tidak ada batasan. Kita telah mengalahkan mereka sepenuhnya secara militer," ujar Trump.

Ia juga menambahkan bahwa Amerika Serikat memiliki militer yang jauh lebih kuat dibandingkan negara mana pun di dunia. "Siapa lagi yang bisa melakukan blokade seperti itu? Saya telah melakukan blokade angkatan laut di mana tidak satu pun kapal yang mampu melewatinya. Beberapa kapal mencoba, mereka tidak berhasil," katanya.

Ketika didesak lebih lanjut mengenai apakah MoU tersebut sama dengan "penyerahan diri tanpa syarat" yang sebelumnya ia inginkan dari Teheran, Trump menjawab, "Iya, itu mungkin memang penyerahan diri tanpa syarat."

Nota kesepahaman itu ditandatangani secara jarak jauh oleh Trump dan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, pada Rabu (17/6) waktu setempat. Kesepakatan tersebut mengakhiri permusuhan secara permanen di semua front, termasuk Lebanon, dan memulai gencatan senjata selama 60 hari.

Selain itu, MoU ini juga mencakup pencabutan blokade Amerika Serikat terhadap Iran, pemulihan lalu lintas komersial di Selat Hormuz, pembahasan rencana rekonstruksi senilai 300 miliar dolar AS, serta pencabutan sanksi yang sebelumnya diberlakukan oleh Washington terhadap Teheran.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags