PALM Waspadai Gejolak Geopolitik dan Regulasi Jadi Tantangan Investasi 2026

- Kamis, 18 Juni 2026 | 11:50 WIB
PALM Waspadai Gejolak Geopolitik dan Regulasi Jadi Tantangan Investasi 2026

Gejolak geopolitik global dan perubahan regulasi diproyeksikan menjadi tantangan terbesar bagi dunia investasi pada 2026. Dua faktor ini dinilai berpotensi meningkatkan volatilitas pasar dan secara langsung memengaruhi arah pengambilan keputusan para pelaku investasi.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM) dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) perseroan yang digelar pada Rabu, 17 Juni 2026. Direktur PALM, Ellen Kartika, menegaskan bahwa kondisi ekonomi global yang semakin sulit diprediksi menuntut perusahaan untuk lebih cermat dalam memantau berbagai perkembangan, baik di tingkat internasional maupun domestik.

“Menurut kami tantangan terbesarnya adalah gejolak geopolitik maupun perubahan regulasi yang ada. Jadi itu membuat market menjadi lebih volatile,” ujar Ellen.

Menurut dia, ketidakpastian yang bersumber dari faktor eksternal dapat memengaruhi sentimen pasar dan kinerja investasi secara keseluruhan. Oleh karena itu, perseroan terus memantau perkembangan geopolitik serta kebijakan yang berpotensi berdampak terhadap portofolio investasinya.

Sementara itu, Presiden Direktur PALM Tri Boewono turut menyoroti berbagai dinamika global yang masih membayangi prospek perekonomian dunia. Konflik geopolitik dan sejumlah faktor eksternal lainnya dinilai dapat memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas ekonomi di berbagai negara, termasuk Indonesia.

“Kalau secara global, Bapak-Ibu juga sangat paham, kita semua khawatir dengan apa yang terjadi di dunia, baik perang maupun faktor-faktor lainnya. Jadi ada pengaruh dari luar Indonesia yang juga dapat berdampak terhadap kondisi di Indonesia,” kata Tri.

Di tengah tekanan eksternal tersebut, PALM justru mencatatkan kinerja solid sepanjang tahun 2025. Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp1,85 triliun, melonjak 193 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh keuntungan neto atas investasi pada saham dan efek ekuitas lainnya yang mencapai Rp2,23 triliun.

Sejalan dengan peningkatan kinerja itu, para pemegang saham menyetujui pembagian dividen tunai untuk tahun buku 2025 sebesar Rp50 miliar, atau setara dengan 2,97 persen dari laba bersih perseroan. Total aset PALM juga meningkat 17 persen menjadi Rp9,19 triliun pada 2025, dari sebelumnya Rp7,87 triliun.

Memasuki tahun 2026, tren pertumbuhan masih berlanjut. Pada kuartal I-2026, PALM membukukan laba periode berjalan sebesar Rp2,32 triliun, melonjak 263,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Lonjakan ini didorong oleh kenaikan keuntungan neto atas investasi pada saham dan efek ekuitas lainnya yang meningkat 287,2 persen menjadi Rp2,44 triliun.

Total aset perseroan pun tumbuh 25,6 persen menjadi Rp11,55 triliun, dibandingkan posisi akhir 2025 yang sebesar Rp9,19 triliun. Meskipun prospek global masih diselimuti ketidakpastian, PALM optimistis dapat terus menjaga momentum pertumbuhan dengan strategi investasi yang lebih hati-hati dan adaptif terhadap perubahan.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini