Laju inflasi di Sumatra Utara pada Mei 2026 melonjak signifikan hingga mencapai 4,35 persen secara tahunan, melampaui catatan bulan sebelumnya sekaligus rata-rata nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatra Utara mencatat angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi April yang sebesar 2,92 persen, serta inflasi nasional yang berada di level 3,08 persen. Kondisi ini menempatkan Sumut dalam posisi yang terus berada di luar rentang sasaran inflasi pemerintah yang ditetapkan sebesar 2,5 persen plus minus satu persen sejak awal tahun.
Kepala BPS Sumut, Asim Saputra, mengungkapkan bahwa lonjakan inflasi tahunan ini terutama didorong oleh kenaikan harga pada Kelompok Pengeluaran Makanan, Minuman, dan Tembakau. Kelompok tersebut mencatat inflasi sebesar 7,11 persen secara tahunan dan memberikan andil terbesar terhadap laju inflasi di bulan Mei, yakni mencapai 2,55 persen. Pernyataan ini disampaikan Asim dalam rilis Berita Resmi Statistik Sumut pada Selasa, 2 Juni 2026.
“Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau mengalami inflasi 7,11 persen pada Mei dan berandil terbesar terhadap laju inflasi di bulan Mei, yakni sebesar 2,55 persen,” ujarnya.
Asim merinci sejumlah komoditas pangan yang menjadi pendorong utama inflasi. Tomat memberikan andil sebesar 0,29 persen, disusul beras dengan andil 0,24 persen, cabai merah sebesar 0,18 persen, dan ikan dencis yang menyumbang 0,16 persen. Namun, komoditas dengan andil terbesar justru berasal dari kelompok di luar pangan, yaitu emas perhiasan yang tercatat memberikan sumbangan sebesar 0,57 persen terhadap inflasi tahunan Sumut.
Sementara itu, Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya, tempat emas perhiasan bernaung, mengalami inflasi tahunan sebesar 9,73 persen pada Mei. Kelompok ini secara keseluruhan memberikan pengaruh sebesar 0,61 persen terhadap laju inflasi tahunan di provinsi tersebut. Di sisi lain, kelompok pengeluaran lain yang turut memberikan andil cukup besar adalah Transportasi sebesar 0,25 persen serta Penyediaan Makanan dan Minuman atau Restoran sebesar 0,29 persen.
Secara bulanan, inflasi Sumut pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,89 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang hanya mencapai 0,28 persen. Komoditas penyumbang inflasi bulanan terbesar di Sumut adalah tomat dengan andil 0,34 persen, cabai merah 0,31 persen, bawang merah 0,09 persen, dan cabai rawit 0,08 persen. Menariknya, emas perhiasan justru menjadi salah satu komoditas yang menyumbang deflasi secara bulanan dengan andil minus 0,03 persen, seiring dengan penurunan harga emas pada bulan tersebut.
Adapun inflasi tahun kalender atau year-to-date di Sumatra Utara hingga periode ini tercatat sebesar 0,67 persen. Lonjakan inflasi pada Mei ini menjadi catatan penting setelah sebelumnya sempat terjadi penurunan pada April, menandakan bahwa tekanan harga di Sumut masih cukup tinggi dan perlu diwaspadai.
Artikel Terkait
Dirgayuza Ungkap Sosok Nanik S Deyang di Balik Sepatu Kets: Sahabat Tangguh Prabowo yang Kini Pimpin BGN
Tiga Anggota Rombongan Kesenian Sisingaan Tewas Tersengat Listrik di Bekasi
Harga Emas Antam Stagnan di Rp2,774 Juta per Gram, Buyback Tak Bergerak
Mantan Caleg di Bekasi Jadi Otak Pembunuhan Warga Korsel, Bayar Eksekutor Rp139 Juta