Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menutup pekan ini dengan kinerja yang kurang menggembirakan, tertekan oleh kombinasi sentimen pengetatan fiskal di dalam negeri dan ketidakpastian moneter yang masih tinggi di Amerika.
Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (29/5/2026), rupiah di pasar spot melemah 0,20 persen secara harian ke level Rp17.881 per dolar AS. Dalam sepekan, depresiasi mata uang Garuda mencapai 0,91 persen jika dibandingkan dengan posisi Rp17.717 per dolar AS pada pekan sebelumnya. Pelemahan serupa juga tercatat pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, yang turun 0,52 persen secara harian ke posisi Rp17.883 per dolar AS. Secara mingguan, kurs Jisdor mencatat penurunan 0,93 persen dari level yang sama di pekan lalu.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah sepanjang pekan ini tidak lepas dari persepsi negatif pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi domestik. Sorotan tajam dari lembaga pemeringkat kredit global seperti S&P Global, Moody’s, dan Fitch Ratings terhadap prospek defisit serta keterbatasan ruang anggaran belanja negara turut menggerus kepercayaan investor.
Di sisi lain, lonjakan harga minyak mentah dunia ikut memicu pembengkakan biaya impor energi nasional. Fenomena ini secara otomatis mendorong peningkatan permintaan valas di pasar domestik, yang pada akhirnya menekan surplus neraca perdagangan karena pasokan dolar dari sektor ekspor cenderung melambat.
“Pelemahan rupiah beberapa waktu terakhir terjadi bersamaan dengan tekanan di pasar saham dan obligasi, termasuk akibat sentimen MSCI, kekhawatiran terhadap defisit fiskal, dan kenaikan imbal hasil SBN,” ujar Ibrahim, Jumat (29/5/2026).
Dari sisi eksternal, rilis data makroekonomi Amerika Serikat turut memberikan andil besar. Pertumbuhan ekonomi AS dilaporkan melambat ke angka 1,6 persen, lebih rendah dari estimasi awal sebesar 2 persen. Selain itu, Departemen Tenaga Kerja AS mencatat klaim pengangguran awal yang membengkak menjadi 215.000 untuk pekan yang berakhir pada 23 Mei, melampaui ekspektasi pasar di angka 211.000.
Meski pertumbuhan melambat, tingkat inflasi pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) utama AS justru bertahan tinggi di level 3,8 persen pada Maret 2026. Kondisi ini memperkuat indikasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve, belum akan melonggarkan kebijakan moneternya dalam waktu dekat.
“Kebijakan bank sentral Amerika Serikat yang menahan suku bunganya di level tinggi memicu larinya arus modal asing dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia,” kata Ibrahim.
Sementara itu, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut bahwa fokus investor pada pekan depan akan tertuju pada rilis data inflasi dan kinerja perdagangan Indonesia terbaru. Konflik geopolitik di Timur Tengah serta pergerakan harga minyak mentah global juga tetap menjadi radar utama pasar, di samping rilis data penting AS seperti indeks ISM dan Non-Farm Payrolls.
“Investor juga akan mencermati dimulainya penerapan Peraturan Pemerintah tentang Devisa Hasil Ekspor,” kata Lukman.
Untuk rentang pergerakan sepekan ke depan, Lukman memproyeksikan rupiah akan berfluktuasi di kisaran Rp17.700 hingga Rp18.200 per dolar AS. Sementara itu, Ibrahim memperkirakan mata uang domestik akan bergerak pada rentang Rp17.800 hingga Rp18.100 per dolar AS.
Artikel Terkait
BCA Curi Poin Kemenangan dari Indofood dan PGN di Kompetisi Catur IDX Channel 2026
Dokter Ingatkan Orang Dewasa Jangan Abaikan Vaksinasi, Imunitas dari Vaksin Masa Kecil Bisa Menurun
Resep Sop Konro Makassar, Hidangan Iga Sapi Berkuah Kluwek yang Kaya Rempah
Kemendikdasmen Siapkan 150 Ribu Beasiswa D4 dan S1 untuk Guru demi Penuhi Kualifikasi Akademik