Pemuda di Bekasi Bunuh Keponakan Usai Dua Hari Tak Minum Obat Epilepsi

- Sabtu, 30 Mei 2026 | 14:40 WIB
Pemuda di Bekasi Bunuh Keponakan Usai Dua Hari Tak Minum Obat Epilepsi

Seorang pemuda berinisial G, 18 tahun, nekat menghabisi nyawa keponakannya sendiri yang masih berusia dua tahun di kawasan Jatirangga, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi. Peristiwa tragis ini tidak hanya mengguncang warga sekitar, tetapi juga memunculkan pertanyaan mengenai kondisi kejiwaan pelaku yang disebut-sebut memiliki riwayat penyakit tertentu.

Ketua RT setempat, Taufik Hidayat, mengungkapkan bahwa G diketahui menderita epilepsi. Informasi tersebut diperoleh dari ibu G yang juga merupakan nenek korban, usai peristiwa pembunuhan terjadi. “Sempat ditanya ke ibunya, dia punya penyakit epilepsi,” ujar Taufik saat ditemui di kediamannya dekat lokasi kejadian, Sabtu (30/5/2026).

Menurut Taufik, keseharian G memang terlihat berbeda dari anak seusianya. Ia kerap terlihat berbicara sendiri, sebuah kebiasaan yang cukup mencolok di lingkungan tempat tinggalnya. “Emang saya perhatiin kalau si pamannya itu ya agak beda dari anak-anak normal. Biasa gitu ya, emang saya kadang-kadang dia jalan, suka ngomong sendiri,” jelasnya.

Meskipun memiliki kebiasaan yang tidak lazim, Taufik menegaskan bahwa G bukanlah pribadi yang tempramental. Dalam keseharian, G kerap menjadi sasaran ledekan warga, namun ia tidak pernah menunjukkan perlawanan atau reaksi berlebihan. “Kadang suka diledekin apa, tapi enggak, enggak temperamen. Cuma biasa aja gitu ya, cuman memang ngomong sendiri gitu ya,” terang Taufik.

Di sisi lain, G tetap menjalani aktivitas seperti orang pada umumnya. Ia bahkan kerap berbelanja ke warung untuk membelikan susu bagi keponakannya. “Dia bisa bawa belanjaan dia pulang. Buktinya bisa, saya sering lihat dia bawa susu buat ponakannya. Bisa belanja,” ujar Taufik. “Kalau keseharian mah ya kita perhatiin biasa-biasa aja,” lanjutnya.

Namun, situasi berubah drastis saat peristiwa nahas itu terjadi. Ibu G menjelaskan bahwa anaknya sudah dua hari tidak mengonsumsi obat rutin yang biasa diminumnya. Ketika obat tersebut tidak diminum, G disebut mudah marah, terutama jika merasa terganggu. “Iya (pas kejadian) sudah dua hari ini obatnya habis, enggak minum obat. Nah, dia kalau enggak minum obat katanya ya suka marah-marah katanya, kalau keganggu gitu,” imbuh Taufik menirukan penjelasan sang ibu.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar