AS Serang Target Rudal Iran di Bandar Abbas, Negosiasi Damai Masih Alot

- Selasa, 26 Mei 2026 | 11:05 WIB
AS Serang Target Rudal Iran di Bandar Abbas, Negosiasi Damai Masih Alot

Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan di wilayah selatan Iran, menargetkan lokasi rudal dan sejumlah kapal yang diduga digunakan untuk menempatkan ranjau. Langkah ini diumumkan oleh Komando Pusat AS sebagai tindakan pembelaan diri yang bertujuan melindungi pasukan mereka dari ancaman yang ditimbulkan oleh pihak Iran.

Dalam pernyataan resminya, Komando Pusat AS menegaskan bahwa operasi tersebut dirancang secara terukur. Juru bicara Komando Pusat, Kapten Tim Hawkins, menyatakan bahwa militer AS terus mempertahankan pasukannya dengan tetap menahan diri di tengah gencatan senjata yang masih berlangsung antara kedua negara.

Sementara itu, serangan ini terjadi di tengah dinamika diplomasi yang belum menemukan titik terang. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqai, mengakui bahwa telah ada sejumlah kemajuan dalam perundingan dengan AS. Namun, ia menegaskan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri konflik belum akan tercapai dalam waktu dekat.

Menurut Hawkins, serangan terbaru ini menyasar area di sekitar Bandar Abbas, sebuah kota pelabuhan strategis di selatan Iran yang juga menjadi pangkalan angkatan laut di Selat Hormuz. Media pemerintah Iran sebelumnya melaporkan bahwa otoritas setempat di Bandar Abbas tengah melakukan penyelidikan setelah terdengar suara ledakan di kawasan tersebut.

Hingga saat ini, Iran belum memberikan tanggapan resmi atas serangan terbaru AS. Belum jelas pula dampak dari operasi militer ini terhadap prospek kesepakatan damai yang tengah dirundingkan oleh kedua negara.

Menanggapi situasi tersebut, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa kesepakatan masih mungkin dicapai. Ia menyinggung pembicaraan yang berlangsung pada Selasa antara juru runding utama Iran dan menteri luar negerinya dengan perdana menteri Qatar. Rubio mengakui bahwa proses negosiasi masih panjang, terutama terkait perumusan bahasa dalam dokumen awal.

“Kita akan lihat apakah kita bisa mencapai kemajuan. Saya kira saat ini masih banyak proses bolak-balik terkait bahasa spesifik dalam dokumen awal, jadi ini akan memakan waktu beberapa hari,” ujar Rubio kepada wartawan dalam kunjungan resminya ke India. Ia menambahkan bahwa Presiden Donald Trump telah menyatakan keinginannya untuk mewujudkan kesepakatan tersebut, seraya menegaskan bahwa Trump akan menghasilkan kesepakatan yang baik atau tidak sama sekali.

Sebelumnya, pada akhir pekan lalu, Trump sempat menyatakan bahwa kedua pihak sudah mendekati kesepakatan. Namun, ia kemudian menginstruksikan para perunding untuk tidak terburu-buru. Rubio sebelumnya juga menyebut bahwa kesepakatan berpotensi dicapai pada Senin, namun pernyataan dari pihak Iran justru menunjukkan sikap yang lebih hati-hati.

Baqai menanggapi optimisme tersebut dengan pernyataan yang lebih realistis. “Benar bahwa kami telah mencapai kesimpulan atas sebagian besar isu yang dibahas... tetapi untuk mengatakan bahwa ini berarti penandatanganan kesepakatan sudah dekat, tidak seorang pun bisa membuat klaim seperti itu,” katanya.

Nota kesepahaman yang tengah dibahas oleh kedua pihak dilaporkan mencakup sejumlah poin penting, antara lain perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta rencana perundingan lanjutan terkait program nuklir Iran.

Namun, proses negosiasi disebut-sebut berjalan alot karena faktor internal di Iran. CBS News, mitra BBC di AS, melaporkan bahwa intelijen AS meyakini Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, yang terluka dalam serangan Israel pada hari pertama perang, tengah bersembunyi di lokasi yang tidak diungkapkan. Kondisi ini menyulitkan komunikasi dengan para utusannya dan memperlambat jalannya perundingan dengan AS.

Isu-isu lain yang masih menjadi perdebatan dan kemungkinan akan dinegosiasikan kemudian mencakup rincian pelonggaran sanksi terhadap Iran, pencairan dana Iran yang dibekukan, serta tuntutan AS agar Iran membatasi ambisi nuklirnya. Pada awal perang, Iran diperkirakan memiliki sekitar 440 kilogram uranium yang telah diperkaya hingga tingkat kemurnian 60 persen, hanya selangkah lagi dari tingkat 90 persen yang diperlukan untuk keperluan senjata nuklir.

Pada Senin malam, Trump menyatakan bahwa uranium yang telah diperkaya itu akan segera diserahkan kepada AS, atau lebih disukai, dengan kerja sama dan koordinasi dengan Republik Islam Iran, dimusnahkan di lokasi.

Gencatan senjata antara pasukan AS dan Iran sendiri telah berlaku sejak 8 April. Dalam periode tersebut, Iran tetap mengendalikan jalur pelayaran di Teluk melalui Selat Hormuz, sementara Angkatan Laut AS berupaya memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran.

Konflik berskala luas antara AS dan Israel melawan Iran dipicu oleh serangan pada 28 Februari lalu, yang kemudian memicu aksi balasan dari Iran. Iran menyerang Israel serta negara-negara sekutu AS di Teluk, dan secara efektif menutup Selat Hormuz. Langkah tersebut menyebabkan harga minyak dunia melonjak tajam dan berdampak pada perekonomian global.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar