Atmosfer pesta mulai terasa di Persib Bandung. Ribuan bobotoh bersiap menyambut malam yang bisa menjadi salah satu momen paling bersejarah bagi Maung Bandung dalam beberapa tahun terakhir. Namun, di tengah euforia yang perlahan membesar, satu sosok justru memilih berdiri dalam ketegangan dan kewaspadaan penuh, yaitu Bojan Hodak.
Persib hanya membutuhkan hasil imbang saat menghadapi Persijap Jepara pada laga pamungkas Super League 2025/2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Sabtu (23/5). Secara hitung-hitungan, peluang juara berada sangat dekat di depan mata. Akan tetapi, bagi Bojan Hodak, situasi seperti itu justru bisa menjadi jebakan paling berbahaya.
Pelatih asal Kroasia tersebut tidak ingin para pemainnya kehilangan fokus hanya karena terlalu cepat percaya gelar sudah berada dalam genggaman. Ia memahami betul bagaimana sepak bola bisa berubah dalam satu malam, terlebih ketika lawan datang tanpa tekanan besar dan justru punya motivasi menggagalkan pesta.
“Itu sepenuhnya omong kosong, kita belum memenangkan apa pun. Jika Anda terus-menerus menunjukkan ini, Anda akan memotivasi lawan dan pemain kami akan kehilangan fokus,” ujar Hodak.
Nada bicara Bojan memperlihatkan satu hal penting: ia belum merasa aman. Dan alasannya sangat masuk akal. Pada putaran pertama musim ini, Persib justru dipaksa tumbang 1-2 oleh Persijap Jepara. Kekalahan itu menjadi salah satu hasil paling mengejutkan yang dialami Maung Bandung sepanjang musim.
Bukan hanya kalah, Persib kala itu terlihat kesulitan mengembangkan permainan. Strategi Bojan berhasil dibaca dan dipatahkan oleh racikan taktik pelatih Persijap, Mario Lemos. Saat itu Persijap bermain disiplin, agresif dalam transisi, dan mampu merusak ritme permainan Persib yang biasanya dominan dalam penguasaan bola.
Trauma itulah yang tampaknya masih membekas di kepala Bojan menjelang pertemuan kedua ini. Ia sadar Persijap bukan lawan yang bisa diremehkan, apalagi dalam beberapa laga terakhir tim asal Jepara tersebut menunjukkan performa yang terus membaik. Bojan bahkan secara khusus mengingatkan anak asuhnya mengenai kualitas Persijap yang mampu memberi perlawanan sengit kepada banyak tim besar.
“Pemain harus siap 100 persen karena Persijap adalah tim yang bagus. Mereka bermain baik lawan Borneo FC dan punya beberapa hasil bagus dalam laga terakhir,” tuturnya.
Kalimat itu sekaligus menjadi sinyal bahwa Persib kemungkinan akan bermain lebih hati-hati dibanding biasanya. Bojan tampaknya tidak ingin timnya terlalu larut dalam tekanan untuk menyerang demi kemenangan, karena hasil imbang sebenarnya sudah cukup memastikan gelar. Namun, situasi itulah yang justru bisa menghadirkan dilema.
Jika bermain terlalu defensif, Persib berisiko kehilangan identitas permainan agresif mereka. Sebaliknya, jika terlalu terbuka menyerang, Persijap punya potensi menghukum lewat serangan balik cepat seperti yang terjadi pada pertemuan pertama. Di sisi lain, tekanan psikologis juga kini sepenuhnya berada di kubu Persib. Publik Bandung sudah bersiap merayakan gelar, Stadion GBLA dipastikan penuh, dan ekspektasi besar akan mengiringi setiap sentuhan bola pemain Maung Bandung.
Dalam kondisi seperti itu, satu kesalahan kecil bisa berubah menjadi kepanikan besar. Karena itu Bojan memilih meredam seluruh euforia sejak awal. Ia ingin pemain tetap berpikir bahwa pertandingan ini sama sulitnya seperti final. Situasi tersebut menunjukkan bagaimana pengalaman panjang Bojan membentuk mentalitasnya sebagai pelatih. Ia memahami bahwa gelar juara sering kali tidak ditentukan oleh kualitas semata, tetapi juga oleh kemampuan menjaga fokus di momen paling menentukan.
Kini semuanya akan ditentukan dalam 90 menit terakhir musim ini. Bagi Persib, laga melawan Persijap bukan sekadar pertandingan penutup kompetisi. Ini adalah ujian mental untuk memastikan mimpi juara benar-benar menjadi kenyataan. Dan bagi Bojan Hodak, laga ini terasa lebih menegangkan karena ia tahu betul: lawan yang pernah mengalahkannya sekali, selalu punya potensi melakukannya lagi.
Artikel Terkait
Jemaah Haji Indonesia Asal Kloter JKG-27 Ditemukan Meninggal Setelah Dilaporkan Hilang
Rubio Dorong ‘Rencana B’ NATO Buka Kembali Selat Hormuz Jika Iran Menolak Negosiasi
Kepala Militer Pakistan Kunjungi Iran di Tengah Mediasi dengan AS untuk Akhiri Perang Timur Tengah
Presiden Prabowo Sebut Gaji Rendah ASN Akibat Kebocoran Kekayaan Negara Rp5.400 Triliun ke Luar Negeri