Kepala Militer Pakistan Kunjungi Iran di Tengah Mediasi dengan AS untuk Akhiri Perang Timur Tengah

- Jumat, 22 Mei 2026 | 23:30 WIB
Kepala Militer Pakistan Kunjungi Iran di Tengah Mediasi dengan AS untuk Akhiri Perang Timur Tengah

Kepala Militer Pakistan, Marsekal Asim Munir, memulai kunjungan resmi ke Teheran, Iran, di tengah proses evaluasi yang dilakukan negara tersebut terhadap proposal terbaru Amerika Serikat untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Langkah ini menandai babak baru dalam upaya diplomatik yang melibatkan Islamabad sebagai mediator antara dua negara yang tengah berseteru.

Pakistan, yang berbatasan langsung dengan Iran di sebelah timur, telah memainkan peran sebagai penengah antara Teheran dan Washington sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu. Saat itu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan yang memicu perang berkepanjangan di kawasan tersebut. Kunjungan Munir kali ini dinilai sebagai kelanjutan dari upaya mediasi yang sebelumnya telah dirintis oleh pejabat tinggi Pakistan lainnya.

“Munir telah berangkat hari ini untuk kunjungan resmi di mana ia akan mengadakan pertemuan dengan para pemimpin Iran,” ujar seorang sumber di Pakistan kepada AFP, Jumat (22/5/2026).

Sementara itu, media Iran melaporkan pada Kamis (21/5) bahwa Munir dijadwalkan tiba di Teheran pada hari yang sama untuk melanjutkan rangkaian “pembicaraan dan konsultasi” dengan otoritas setempat. Kunjungan ini terjadi tak lama setelah Menteri Dalam Negeri Pakistan, Mohsin Naqvi, melakukan perjalanan ke Iran dan bertemu dengan Presiden Masoud Pezeshkian serta Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.

Di sisi lain, Pakistan sebelumnya telah menjadi tuan rumah pada bulan April lalu untuk satu-satunya negosiasi langsung antara pejabat Amerika Serikat dan Iran yang pernah terjadi sejak perang dimulai. Pertemuan tersebut menjadi titik terang di tengah ketegangan yang masih membayangi hubungan kedua negara.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar