BPBD Karawang Catat Puluhan Desa di Enam Kecamatan Rawan Kekeringan Akibat Kemarau Panjang

- Jumat, 22 Mei 2026 | 23:45 WIB
BPBD Karawang Catat Puluhan Desa di Enam Kecamatan Rawan Kekeringan Akibat Kemarau Panjang

Musim kemarau tahun ini diprediksi membawa dampak lebih luas bagi sejumlah wilayah di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat, puluhan desa yang tersebar di enam kecamatan masuk dalam kategori rawan kekeringan. Ancaman ini tidak hanya menyasar ketersediaan air bersih, tetapi juga sektor pertanian yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Karawang, Ferry Muharam, mengungkapkan bahwa potensi kekeringan tahun ini lebih meluas dibandingkan tahun sebelumnya. “Ada sejumlah daerah yang berpotensi kekeringan, sebagai dampak dari kemarau panjang di tahun ini,” ujarnya, Jumat (22/5/2026). Meskipun dalam beberapa waktu terakhir sempat turun hujan, puncak musim kemarau diperkirakan baru akan terjadi pada rentang Agustus hingga November 2026.

Enam kecamatan yang masuk dalam daftar rawan kekeringan adalah Tegalwaru, Pangkalan, Telukjambe Barat, Karawang Timur, Ciampel, dan Klari. Di Kecamatan Klari, satu desa yang terancam adalah Desa Curug. Sementara itu, Kecamatan Ciampel memiliki dua desa yang berpotensi terdampak, yakni Parungmulya dan Mulyasejati. Desa Palumbonsari di Kecamatan Karawang Timur juga disebut bakal merasakan dampak kemarau panjang.

Di Kecamatan Telukjambe Barat, wilayah yang rawan kekeringan meliputi Desa Wanakerta dan Margakaya. Adapun di Kecamatan Tegalwaru, jumlah desa yang terancam lebih banyak, mencakup Desa Cintalanggeng, Kutamaneuh, Cigunungsari, Cintalaksana, Kutalanggeng, Cintawargi, dan Cipurwasari. Sementara di Kecamatan Pangkalan, potensi kekeringan mengancam delapan desa, yaitu Cintaasih, Kertasari, Medalsari, Jatilaksana, Tamanmekar, Ciptasari, Mulangsari, dan Tamansari.

Ferry menambahkan, prediksi awal menunjukkan bahwa wilayah terdampak kemarau tahun ini bisa bertambah hingga ke Kecamatan Telukjambe Timur dan Cilamaya Wetan. “Kemungkinan tahun ini kemarau diprediksi lebih panjang, jadi berpotensi semakin meluas daerah yang terdampak,” katanya.

Saat ini, BPBD Karawang masih melakukan pemantauan untuk mengukur luas wilayah yang benar-benar akan terdampak. Di sisi lain, koordinasi dengan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan setempat terus dilakukan, terutama untuk mengantisipasi ancaman terhadap lahan sawah. Menurut Ferry, dampak kekeringan tahun lalu lebih banyak dirasakan oleh sektor pertanian, bukan hanya krisis air bersih.

“Jadi untuk antisipasi kekeringan pada musim kemarau tahun ini, kami terus berkoordinasi dengan Dinas Pertanian,” ujarnya. Salah satu langkah yang disiapkan adalah penyediaan pompa air guna membantu irigasi sawah agar produktivitas pertanian tetap terjaga meskipun curah hujan minim.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar