Warga Kota Makassar kembali diresahkan oleh maraknya aksi penipuan jalanan yang mengeksploitasi rasa iba dan empati masyarakat. Modus lama berupa penjualan barang keliling dengan dalih anggota keluarga sedang sakit parah dilaporkan muncul kembali di berbagai sudut kota, menyasar kawasan perumahan dan lorong-lorong pemukiman saat situasi sedang lengang.
Berdasarkan laporan visual dan pengaduan warga yang dihimpun melalui jejaring informasi lokal pada Senin malam, 18 Mei 2026, sekitar pukul 21.30 WITA, aksi ini diduga kuat merupakan bagian dari jaringan penipuan terstruktur. Pelaku tidak bergerak sendiri, melainkan menjalankan skenario yang dirancang secara rapi untuk meraup keuntungan pribadi secara instan dengan memanfaatkan kerentanan psikologis korban.
Modus operandi yang teridentifikasi menunjukkan pola yang hampir seragam di setiap kejadian. Pelaku biasanya berpasangan sebagai suami istri yang berboncengan menggunakan sepeda motor sambil membawa barang dagangan berupa sandal. Untuk memperkuat sandiwara dan memancing empati, mereka turut membawa anak kecil di atas motor selama berkeliling.
Saat menawarkan dagangannya, pelaku akan mengaku bahwa anak mereka sedang sakit keras dan sangat membutuhkan biaya besar untuk operasi dalam waktu dekat. Guna membangun kepercayaan instan dengan calon korban, mereka kerap mengaku tinggal di sekitar lokasi kejadian atau di belakang lorong setempat. Semua pengakuan dan cerita dramatis tersebut sengaja diciptakan untuk membangkitkan rasa iba warga, sehingga korban merasa terdesak untuk membeli sandal dengan harga tinggi atau memberikan donasi sukarela.
Menanggapi fenomena ini, pihak-pihak terkait dan komunitas informasi lokal mengimbau seluruh warga Kota Makassar untuk tetap mempertahankan kepedulian sosial namun tetap mengedepankan kewaspadaan logis. Masyarakat diminta untuk tidak mudah percaya pada klaim sepihak mengenai kondisi medis atau keadaan darurat tanpa adanya bukti surat keterangan dokter atau rujukan rumah sakit yang valid.
Jika pelaku mengaku sebagai warga lorong belakang atau tetangga dekat, langkah pertama yang disarankan adalah segera mengonfirmasi kebenaran identitas mereka kepada pengurus RT/RW setempat. Sementara itu, bagi warga yang benar-benar ingin membantu sesama yang sedang sakit atau kesulitan ekonomi, disarankan untuk menyalurkan bantuan melalui lembaga amil, yayasan sosial resmi, atau komunitas kemanusiaan terverifikasi agar bantuan tepat sasaran dan tidak disalahgunakan oleh oknum penipu.
Di sisi lain, jika tindakan pelaku mulai memaksa, mengintimidasi, atau mencurigakan, masyarakat diminta segera melaporkan aktivitas tersebut kepada aparat keamanan kampung, Bhabinkamtibmas, atau polsek terdekat demi kenyamanan lingkungan bersama. Kewaspadaan kolektif menjadi kunci utama untuk memutus rantai penipuan yang terus beradaptasi dengan situasi sosial di lapangan.
Artikel Terkait
Wakil Ketua DPR Sidak ke BEI di Tengah IHSG Tertekan, Koreksi Capai 24 Persen
BJTM dan TOTL Ambles Lebih dari 9 Persen Usai Ex Dividen, Investor Terjebak Dividen Trap
Iran Resmi Bentuk Badan Khusus untuk Awasi Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz
BRI Finance Tunjuk Ignatius Susatyo Wijoyo sebagai Direktur Utama, Ventje Rahardjo Jabat Komisaris Utama