Pabrik Baterai Listrik Pertama RI di Karawang Capai 90 Persen, Siap Beroperasi Komersial Juli 2026

- Selasa, 19 Mei 2026 | 09:20 WIB
Pabrik Baterai Listrik Pertama RI di Karawang Capai 90 Persen, Siap Beroperasi Komersial Juli 2026

Persiapan operasional pabrik baterai listrik pertama di Indonesia, yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat, telah mencapai 90 persen dan ditargetkan memasuki tahap komersial pada Juli mendatang. Pabrik yang merupakan hasil kerja sama antara Indonesia Battery Corporation (IBC) dan Ningbo Contemporary Brunp Lygend (CBL) ini akan menjadi tonggak penting dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Tanah Air.

Presiden Direktur IBC, Aditya Farhan Arif, mengungkapkan bahwa proyek ini tidak hanya berfokus pada produksi baterai, melainkan juga pada pengembangan industri, ekosistem, kapabilitas, dan teknologi secara menyeluruh. “Saat ini, persiapannya sudah 90 persen. Pabrik ini tidak hanya bicara soal pengembangan baterai, tetapi juga kita kembangkan industrinya, ekosistemnya, kapabilitasnya dan tentu saja teknologinya,” ujarnya dalam sebuah diskusi di Jakarta, Senin (18/5/2026).

Menurut Aditya, keberadaan pabrik yang diberi nama Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) ini menjadi momentum strategis untuk mempercepat transisi menuju energi bersih melalui pemanfaatan kendaraan listrik. Program elektrifikasi tersebut, lanjutnya, sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong hilirisasi tambang, khususnya nikel yang melimpah di dalam negeri.

Pabrik CATIB digadang-gadang sebagai salah satu manufaktur strategis untuk mendukung program elektrifikasi nasional. Dalam implementasinya, IBC menggandeng CBL yang merupakan bagian dari produsen baterai asal China, CATL. Fasilitas produksi pada tahap awal memiliki kapasitas 6,9 Gigawatt Hour (GWh) dan akan bertambah menjadi 8,1 GWh pada tahap berikutnya.

Dari pabrik ini, akan dihasilkan sejumlah produk berupa baterai untuk Battery Electric Vehicle (BEV), Hybrid Electric Vehicle (HEV), dan Battery Energy Storage System (BESS). Total investasi yang digelontorkan untuk proyek ini mencapai USD1,1 miliar. “Untuk tahap awal paling tidak kita sudah menyerap sekitar Rp4 triliun investasinya,” kata Aditya.

Jenis baterai yang diproduksi meliputi manganese cobalt (NMC) dan lithium iron phosphate (LFP). Kedua model baterai ini merupakan komponen penting yang digunakan oleh para produsen mobil listrik. Aditya menambahkan, IBC melihat prospek pasar ke depan sangat menjanjikan, terutama didukung oleh meningkatnya penggunaan kendaraan listrik dan kebutuhan akan sistem penyimpanan energi berupa BESS.

“Selain pasar lokal, kami juga membidik ekspor untuk jenis baterai NMC ke Jerman. Di sana pabrikan banyak menggunakannya. Sementara untuk storage kita incar Jepang,” katanya.

Untuk mendukung ambisi mengembangkan ekosistem industri baterai secara global, IBC juga terus mengembangkan sumber daya manusia di perusahaan. Salah satu langkah yang ditempuh adalah mengirim 600 tenaga kerja ke China untuk mendalami teknologi baterai. “Kita ingin mencetak engineer yang fokus pada pengembangan baterai. Selain itu kami juga bekerja sama dengan kampus-kampus di sini,” ujar Aditya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar