IHSG Kembali Melemah di Awal Perdagangan, Tertekan Capital Outflow dan Pelemahan Rupiah

- Selasa, 19 Mei 2026 | 10:00 WIB
IHSG Kembali Melemah di Awal Perdagangan, Tertekan Capital Outflow dan Pelemahan Rupiah

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal perdagangan hari ini, Selasa (19/5/2026), kembali menunjukkan tren pelemahan yang masih berlanjut sejak beberapa waktu terakhir. Indeks dibuka turun tipis 0,03 poin atau nyaris tidak berubah di level 6.599,21, sementara Indeks LQ45 yang memuat 45 saham unggulan juga melemah 0,60 poin atau 0,09 persen ke posisi 650,49. Kondisi ini mencerminkan tekanan yang masih membayangi pasar modal domestik di tengah dinamika global yang belum sepenuhnya stabil.

Pelemahan IHSG hari ini sejalan dengan pergerakan bursa saham global yang cenderung bervariasi. Pada perdagangan sebelumnya, indeks Dow Jones Industrial Average di Wall Street justru ditutup menguat 0,32 persen ke level 49.686,12. Namun, dua indeks utama lainnya justru menunjukkan kinerja negatif: S&P 500 melemah tipis 0,074 persen ke 7.403,05, dan Nasdaq Composite turun 0,51 persen menjadi 26.090,73. Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen pasar masih terpecah di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Sebelumnya, pada perdagangan Senin (18/5/2026), IHSG telah ditutup melemah cukup dalam, yakni 1,85 persen ke level 6.599. Data mencatat terjadi aksi jual bersih oleh investor asing atau net foreign sell sebesar Rp460 miliar di pasar reguler. Tekanan jual ini menjadi indikator bahwa kepercayaan investor asing terhadap pasar saham Indonesia masih rendah.

Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas menjelaskan bahwa tekanan pasar saat ini dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal yang saling terkait. Kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) di kisaran 4,6 persen, penguatan dolar AS, serta pelemahan nilai tukar rupiah ke area Rp17.680 per dolar AS menjadi pemicu utama. Kondisi ini mendorong terjadinya arus modal keluar atau capital outflow dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di sisi lain, pasar juga tengah mencermati potensi peninjauan indeks FTSE Russell yang dapat meningkatkan volatilitas saham domestik. Peninjauan ini kerap memicu pergerakan harga yang tidak menentu, terutama pada saham-saham dengan kapitalisasi besar yang masuk dalam daftar indeks tersebut.

Secara teknikal, IHSG saat ini masih berada dalam fase konsolidasi bearish. Meskipun demikian, kondisi oversold atau jenuh jual membuka peluang terjadinya technical rebound dalam jangka pendek. Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan IHSG akan bergerak pada rentang support di level 6.500 dan resistance di level 6.720.

"IHSG diproyeksikan bergerak pada rentang support 6.500 dan resistance 6.720, dengan fokus pasar tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia di tengah tekanan nilai tukar rupiah," tulis tim riset dalam laporannya, Selasa (19/5/2026). Keputusan suku bunga acuan menjadi salah satu variabel kunci yang akan menentukan arah pergerakan pasar ke depan, terutama dalam upaya menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan arus modal asing.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar