Pedagang 23 Tahun di Pasar Cicadas Rela Tinggalkan Lapak demi Jadi Petugas Kebersihan

- Selasa, 19 Mei 2026 | 02:00 WIB
Pedagang 23 Tahun di Pasar Cicadas Rela Tinggalkan Lapak demi Jadi Petugas Kebersihan

Seorang pedagang paruh baya di Pasar Cicadas, Bandung, menyatakan kesediaannya untuk meninggalkan lapak yang telah menjadi sumber penghidupannya selama 23 tahun demi mengikuti arahan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang menawarkannya pekerjaan baru sebagai petugas kebersihan. Abah Hartoyo, demikian nama pedagang tersebut, selama ini menggantungkan hidup dari menjual kopi, rokok, dan aneka gorengan di kiosnya. Kini, ia rela merelakan profesi lamanya demi mendukung program penataan kota.

Keputusan ini tidak lahir begitu saja. Pasar Cicadas, yang telah beroperasi selama lebih dari 27 tahun, selama ini menjadi sumber polemik bagi warga sekitar. Keberadaan kios-kios dan lapak pedagang kaki lima di kawasan tersebut dinilai menjadi penyebab utama kemacetan lalu lintas. Ketidaknyamanan warga pun terus meningkat hingga akhirnya Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) turun tangan melakukan penertiban. Namun, langkah tersebut justru memicu persoalan baru karena para pedagang menolak tempat mereka berdagang digusur tanpa adanya solusi yang jelas.

Mendengar situasi yang kian berlarut-larut, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memutuskan untuk turun tangan. Alih-alih menggunakan pendekatan represif, ia memilih jalur dialog secara persuasif dengan para pedagang kaki lima. Dalam pertemuan tersebut, KDM sapaan akrab Dedi Mulyadi menyepakati bersama Koordinator PKL Pasar Cicadas, Amang Herman, untuk membongkar bangunan lapak jualan demi mewujudkan penataan kawasan pejalan kaki di Bandung.

Konsekuensi dari pembongkaran tersebut jelas: para pedagang tidak bisa lagi berjualan di lokasi yang sama. Sadar akan hal itu, Dedi Mulyadi menawarkan solusi alternatif berupa pekerjaan baru sebagai petugas kebersihan. Saat berdialog dengan Abah Hartoyo, KDM sempat menanyakan lamanya ia berjualan dan rata-rata penghasilan harian yang diperoleh.

“Udah berapa tahun (jualan di pasar Cicadas)?” tanya KDM.

“23 tahun,” jawab Abah Hartoyo.

“Jualan rokok, minuman, segala rupa. Penghasilan seharian berapa? 50 ribu rata-rata ya kan spekulasi, kadang 40 ribu, kadang bisa jadi 30 kalau apes,” jelas KDM.

Di luar dugaan, negosiasi yang dilakukan berlangsung kooperatif. Para pedagang kaki lima di Pasar Cicadas, termasuk Abah Hartoyo, justru menunjukkan sikap sukarela untuk melepas pekerjaan lamanya demi mendukung program penataan yang diusulkan oleh pemerintah daerah. Langkah ini diharapkan menjadi titik terang bagi penyelesaian masalah kemacetan dan ketidaknyamanan yang telah lama mengemuka di kawasan tersebut.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar